Cari Blog Ini

Festival Toba Samosir 2014 Dimeriahkan 10 Atraksi Budaya

BALIGE, KOMPAS.com - Sepuluh atraksi budaya dijadwalkan akan digelar untuk memeriahkan Festival Danau Toba (FDT) di Balige, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), Sumatera Utara,  Juli 2014.
“Sepuluh kegiatan tersebut tercantum dalam surat Kemenparekraf tanggal 7 November tentang penunjukan Kabupaten Tobasa sebagai tuan rumah pelaksanaan FDT 2014,” ungkap Kepala Disbudpar Tobasa, Ultri Sonlahir Simangunsong di Balige, Senin (2/12/2013).
Jenis perlombaan yang akan meramaikan pesta rakyat itu, yakni, pertunjukan budaya, Lake Toba World Drum Festival, fashion show, lomba renang internasional dan lomba renang tradisonal serta pameran pariwisata dan ekonomi kreatif.
Selain itu, akan diadakan perlombaan solu bolon sejenis perahu besar(dragon boat), paralayang, arung jeram, seminar pariwisata dan lomba nyanyi paduan suara solo.
Di samping itu, menurut Ultri, kemungkinan akan ditambahkan sejumlah atraksi budaya lokal, seperti Monsak Batak (seni olahraga beladiri) dan berbagai permainan rakyat yang dulu sering dimainkan untuk turut diperlombakan.
Erupsi Sinabung Tak Berdampak pada Pariwisata Sumut

Erupsi Sinabung Tak Berdampak pada Pariwisata Sumut

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) memastikan sektor pariwisata Sumatera Utara (Sumut) secara umum tidak terdampak secara signifikan oleh erupsi Gunung Sibanung.
"Erupsi Gunung Sinabung hanya berdampak terhadap daerah di sekitar radius lima kilometer. Hal ini tidak mempengaruhi perjalanan wisatawan ke Sumatera Utara," kata Direktur Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata Kemenparekraf, Firmansyah Rahim di Jakarta, Rabu (5/2/2014).
Kemenparekraf memantau erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara yang masih berlangsung hingga saat ini tidak mempengaruhi perjalanan wisatawan melalui Bandara Kualanamu, Medan, karena lokasinya relatif jauh.
Firmansyah mengatakan, erupsi Sinabung juga tidak berdampak pada destinasi favorit di Sumut seperti Danau Toba dan Kota Medan yang selama ini banyak dikunjungi wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara (wisman).
Menurut Firmansyah, upaya pemerintah terhadap musibah bencana Sinabung saat ini fokus pada penanganan para pengungsi, yakni bagaimana agar pengungsi di tempat penampungan tetap sehat dan aman dengan ketersediaan makanan dan obat-obatan yang mencukupi.
"Pasca tanggap darurat nanti pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat diharapkan bahu-membahu untuk mempercepat pemulihan," kata Firmansyah.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Pusdatin Kemenparekraf menunjukkan kunjungan wisman melalui pintu masuk Bandara Kualanamu Medan pada tiga bulan pertama yakni Januari, Februari, dan Maret 2013 pada kondisi "low season" masing-masing sebanyak 14.405 orang (Januari), 16.419 orang (Februari), dan 17.932 orang (Maret).
Sementara pada April 2013 menunjukkan tren sedikit menurun sebesar 15.011 orang, kemudian memasuki "high season" Mei dan Juni naik kembali masing-masing sebanyak 20.659 orang dan 20.729 orang.
Puncak kunjungan wisman melalui Kualanamu terjadi pada November dan Desember 2013 sebesar 24.784 dan 27.948 orang atau dua kali lipat lebih besar dibanding saat "low season" pada Januari 2013.
BARRY KUSUMADesa Suhi Suhi di Pulau Samosir, Sumatera Utara.
Firmansyah mengatakan, sepanjang tahun 2013 jumlah wisman yang berkunjung ke Indonesia sebanyak 8.802.129 orang atau mengalami pertumbuhan sebesar 9,42 persen dibandingkan tahun 2012 sebesar 8.044.462 orang. Sedangkan perolehan devisa pariwisata 2013 sebesar 10 miliar dollar AS atau meningkat 10,23 persen.
"Meningkatnya kunjungan wisman 2013 antara lain karena semakin mudahnya aksesibilitas ke destinasi pariwisata," katanya.
Firmansyah mencontohkan, saat ini konektivitas penerbangan langsung dari negara-negara sumber wisman ke destinasi unggulan di Indonesia, antara lain Danau Toba Sumut, maupun adanya fasilitas bandara baru seperti Kualanamu Medan semakin bertambah sehingga banyak maskapai penerbangan internasional membuka jalur baru atau menambah frekuensi penerbangan ke Kualanamu.
Pulau Samosir, Unik dan Disukai Turis

Pulau Samosir, Unik dan Disukai Turis

KOMPAS.com - Pulau Samosir di Sumatera Utara adalah pulau yang sangat unik karena merupakan pulau vulkanik yang berada di tengah Danau Toba. Ketinggiannya 1.000 meter di atas permukaan laut. Inilah yang membuat pulau ini menjadi perhatian turis domestik maupun asing.
Menuju Pulau Samosir bisa dilakukan pagi hari dengan membeli tiket feri seharga Rp 10.000 per orang. Dan, sambil menunggu keberangkatan kapal, kita bisa hunting foto di sekitar danau, mengabadikan keindahan dan luasnya Danau Toba.
Selain sebagai tempat wisata, ternyata danau ini menjadi tumpuan hidup masyarakat sekitarnya. Mereka menggunakan air Danau Toba sebagai mata air utama dalam kehidupan sehari-hari. Ada dua tipe feri yang melayani rute ke Pulau Samosir, yaitu feri yang mengangkut penumpang saja dan feri yang mengangkut kendaraan roda empat.
BARRY KUSUMAPulau Samosir d Sumatera Utara.
Jika menggunakan mobil, Anda akan menumpang feri jenis kedua (yang mengangkut kendaraan beroda empat). Selama menyeberang, kita akan disuguhi pemandangan alam danau yang indah, langit biru, dan udara yang sejuk. Cuaca Danau Toba bahkan bisa menghipnotis pengunjung sehingga betah berlama-lama di sini.
Mobil adalah alat transportasi yang sangat penting bagi keluarga yang ingin berkeliling pulau. Di Samosir memang tidak ada angkutan umum. Anda harus menyewa kendaraan berupa sepeda atau sepeda motor jika ingin berjalan-jalan. Ongkos sewa motor antara Rp 70.000 hingga Rp 80.000 per hari.
Di pulau ini juga terdapat beberapa penginapan losmen yang sebagian tidak memiliki nomor telepon. Untuk menginap, kita bisa langsung memesan penginapan secara go show. Jika penginapan sudah penuh, kita bisa meminta tolong penduduk sekitar atau pemilik hotel untuk mencarikan rumah penduduk yang bisa disewakan sebagai tempat menginap. Tarif losmen sekitar Rp 100.000 – Rp 150.000. Wisatawan memang jarang menginap di Samosir.
Namun, jika bepergian secara backpacker, sesampainya di Pulau Samosir kita bisa menyewa ojek atau bermalam di sana.
BARRY KUSUMABatu persidangan
Uniknya, pulau ini memiliki obyek wisata danau. Terdapat dua danau di pulau yang berada di tengah Danau Toba, yaitu Danau Sidihoni dan Aek Natonang. Selain itu, pulau ini juga menawarkan banyak keunikan budaya dan sejarah lainnya. Misalnya saja Pusuk Buhit yang dipercaya sebagai tempat asal suku Batak.
Menariknya, di sini terdapat panggung batu. Untuk mendapatkan penjelasan tentang panggung batu, kita bisa menyewa penduduk sekitar sebagai pemandu. Setelah puas mendengarkan kisah tersebut, kita pun bisa berbelanja suvenir, berupa ukiran kayu dan kain tradisional di kios-kios cenderamata.
Obyek wisata lain yang tidak kalah menarik adalah pemandian air panas dan Museum Adat Budaya Batak. Museum ini cukup unik karena berada di ruang terbuka dan di sana ada banyak batu peninggalan raja yang konon asal mula orang Batak. Penjaga museum pun fasih menjelaskan sejarah masa lalu.
Di Pulau Samosir yang konon dikenal sebagai tempat asal mula orang Batak ini menyimpan banyak peninggalan Budaya masa lampau.
Kampung Siallagan
Kampung ini terletak di Desa Ambarita Pulau Samosir. Perkampungan yang mirip benteng ini lokasinya berdekatan dengan Danau Toba dan cukup banyak dikunjungi wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara.
BARRY KUSUMAKampung Siallagan di Pulau Samosir, Sumatera Utara.
Anda akan terkagum-kagum mengamati bagaimana perkampungan ini dikelilingi batu-batu besar disusun bertingkat secara rapi. Dulunya tembok tersebut dilengkapi bambu dan benteng ini berfungsi untuk menjaga perkampungan dari gangguan binatang buas maupun serangan suku lain.
Perkampungan ini dibangun pada masa Raja Laga Siallagan. Kemudian diwariskan kepada keturunan berikutnya sampai dengan sekarang. Yang unik di sini terdapat Batu Persidangan. Dinamakan Batu Parsidangan karena memang fungsinya untuk mengadili penjahat atau pelanggar hukum adat (kasus pembunuhan, pencurian, pemerkosaan, dan lainnya) atau juga untuk musuh politik dari sang raja.
BARRY KUSUMAKampung Siallagan di Pulau Samosir, Sumatera Utara.
Dari kisah inilah kemudian sempat menjadi sebuah stereotipe bahwa masyarakat Batak melakukan praktek kanibalisme. Ritual ini perlahan hilang setelah agama Kristen tersebar di wilayah Samosir oleh seorang pendeta asal Jerman bernama Dr. Ingwer Ludwig Nommensen pada pertengahan abad ke-19.
Raja Siallagan yang sebelumnya masih menganut agama asli Batak (Parmalim) kemudian memeluk Kristen dan tidak melanjutkan ritual kanibalisme itu lagi. Sekarang Huta Siallagan hanya berfungsi sebagai desa wisata saja untuk mengenang sejarah dan budaya salah satu suku di Tanah Batak.
Pemandu wisata ke tempat ini pastinya akan menceritakan hal ini lebih terinci dan dimaksudkan sebagai pelajaran dari bentuk tradisi di zaman dahulu dan tidak ada maksud lainnya.
Desa Suhi Suhi
Desa Suhi Suhi berada dekat dengan pelabuhan Tomok dan kota Kabupaten Samosir, yaitu Pangururan. Untuk mencapai desa ini, dibutuhkan waktu sekitar 40 menit dari Desa Tomok atau 20 menit dari Pangururan melalui jalan darat.
BARRY KUSUMADesa Suhi Suhi di Pulau Samosir, Sumatera Utara.
Tidak ada tiket masuk yang dikenakan bagi pengunjung yang ingin berwisata ke desa ini. Namun saat ini para perajin kain ulos tradisional semakin langka. Tetapi di Desa Suhi Suhi ini hampir sebagian besar perajin baik tua dan muda sedang menenun Ulos.
Di Desa ini kita bisa melihat proses penenunan kain Ulos yang terbilang rumit, dan membutuhkan banyak waktu, kesabaran dan ketelitian yang tinggi. Tidak heran kalau harga yang ditawarkan bisa mulai dari Rp 250.000 sampai Rp 5.000.000. Buat pencinta kain tradisional sangat disarankan untuk datang ke desa ini. Di sini wisatawan bisa membeli Ulos sekaligus belajar cara menenun. (BARRY KUSUMA)
BARRY KUSUMAPenenun kain Ulos di Desa Suhi Suhi, Pulau Samosir, Sumatera Utara.

BARRY KUSUMAKampung Siallagan di Pulau Samosir, Sumatera Utara.

Etalase Geopark Toba Bakal Hadir di Samosir

JAKARTA, KOMPAS.com - Rencananya, di kawasan Danau Toba, Sumatera Utara, akan dikembangkan sebuah taman bumi atau geopark. Hal ini cocok untuk pengembangan wisata minat khusus.
“Letusan Gunung Toba ratusan ribu tahun yang lalu membuat dunia berubah. Ini sedang kita persiapkan secara ilmiah untuk menjadikan Geopark Toba. Etalasenya sedang kita persiapkan dan akan dibangun di Samosir,” kata Bupati Samosir, Mangindar Simbolon saat ditemui di Jakarta, Jumat (26/7/2013).
Walaupun Danau Toba memiliki potensi wisata yang begitu besar, menurut Mangindar, kurangnya acara wisata membuat potensi tersebut kurang berkembang. Untuk itulah, tutur Mangindar, diadakan Festival Danau Toba sebagai penarik minat wisatawan.
Mangindar menjelaskan penginapan sebagai pendukung pariwisata pun sudah tersedia di kawasan Danau Toba. Berbagai penginapan ada di masing-masing kabupaten di sekitar Danau Toba. Tidak hanya hotel di sekitar Danau Toba, akomodasi di Medan, pun kini sudah menjamur.
Selain itu, lanjut Mangindar, dengan adanya bandara baru yaitu Bandara Internasional Kualanamu, diharapkan bisa meningkatkan potensi wisata Danau Toba. Sebab bandara ini dipandang dapat menjadi pintu gerbang Indonesia bagian barat untuk wisatawan domestik dan internasional.
Pusukbuhit Sisa Supervolcano di Tepi Danau Toba

Pusukbuhit Sisa Supervolcano di Tepi Danau Toba

supervolcano
Gunung Pusukbuhit yang disakralkan. Warna putih adalah solfatara. Foto: Oki Oktariadi
Danau Toba yang berada di jalur sesar aktif Sumatra sejatinya merupakan kaldera hasil letusan gunung api raksasa (supervolcano) yang diperkirakan terbentuk sejak 1 juta hingga 74 ribu tahun lalu. Letusan dahsyat itu mempengaruhi iklim dan meluluhlantakkan sebagian peradaban dunia. Saat ini, di Kawasan Toba tersaji keindahan alam yang menakjubkan, sementara aktivitas vulkanismenya seolah tertidur nyenyak. Namun, hakikatnya vulkanisme Toba tetap berlangsung. Tandanya adalah kehadiran Gunung Pusukbuhit yang di tepi danau. Bagi masyarakat Batak, gunung api bertipe B ini adalah tempat diturunkannya Raja Batak dari langit. Berbagai upacara adat dilakukan di lokasi ini, seperti perkawinan, syukuran hasil panen. Bahkan memohon doa restu sebelum berangkat merantau. Itulah sebabnya Pusukbuhit sangat disakralkan.
Danau Toba merupakan bagian dari dataran tinggi yang meliputi dua belas kabupaten/kota di Provinsi Sumatra Utara. Untuk mencapainya dari Medan dapat menggunakan bus melalui Parapat selama sekitar 5 jam. Alternatif lain, dapat menggunakan kereta api jalur Pematangsiantar atau Tebingtinggi, dilanjutkan dengan kendaraan roda empat menuju Parapat.
Kaldera Toba merupakan salah satu fitur vulkanik yang luar biasa yang terbentuk selama dua setengah juta tahun yang lalu. Penelitian mengenai Kaldera Toba hingga kini menghasilkan informasi yang penting dalam ilmu kebumian, khususnya kegunungapian. Informasi itu antara lain pola pembentukan bentang alam, adanya kaldera silikat, evolusi geokimia, pola periodik letusan, juga menggambarkan pola migrasi aktivitas vulkanik ke barat yang menghasilkan letusan supervolcano.
supervolcano
Peta lokasi Danau Toba, Sumatera Utara. Sumber: Atlas Nasional
Danau Toba merupakan kaldera yang sangat besar berukuran 30 hingga 100 km. Tinggi reliefnya mencapai 1.700 m. Kaldera ini terbentuk dalam beberapa periode letusan, yang terjadi pada 840.000, 700.000, dan 75.000 tahun yang lalu. Van Bemmelen (1949) berpendapat, sejarah pembentukan Danau Toba diawali dengan terbentuknya Tumor Batak seluas 300 km2 di antara Sungai Wampu di bagian utara dan Sungai Barumun di selatan. Pembentukan kubah (dome) akibat pengangkatan setinggi 2.000 meter itu ditunjukkan oleh puncak pegunungan seperti Gunung Sibuatan (2.457 m) di barat laut, Gunung Pangulubao (2.151 m) di timur, Gunung Surungan (2.173 m) di tenggara, dan Gunung Uludarat (2.157 m) di sebelah barat.
Letusan Supervocano dan dampaknya terhadap kehidupan
Letusan kolosal yang terjadi pada 74.000 tahun yang lalu menghasilkan endapan lapilli (Toba Muda Kerikil) yang ditemukan hingga ke wilayah India, yang berjarak sekitar 3.000 km dari pusat letusan. Seluruh permukaan Anak Benua India tertutupi material letusan dengan ketebalan rata-rata 15 cm dan tertinggi 6 m. Hal tersebut terbukti dengan adanya abu riolit di sekitar Danau Toba yang sama dengan temuan di Malaysia dan India, bahkan di dasar lautan India Timur dan perairan Teluk Bengal, kurang lebih 3.100 km dari Toba. Bill Rose dan Craig Chesner dari Michigan Technological University menyimpulkan, total material letusan gunung api raksasa ini sekitar 2.800 km3. Sebanyak 800 km3 ignimbrit mengalir di dataran dan diperkirakan 2.000 km3 sebagai abu yang diterbangkan angin ke arah barat.
Debu vulkanik yang disemburkan ke angkasa saat letusan dahsyat yang berlangsung selama dua minggu tanpa henti itu membentuk tirai penghalang cahaya matahari yang sangat tebal di lapisan stratosfer. Hal itu menyebabkan intensitas cahaya matahari yang jatuh ke permukaan Bumi menurun drastic, tinggal 1% dari nilai normalnya. Dampaknya, suhu global menurun hingga 3 – 3,5º C dari suhu normal dan memicu terjadinya salah satu zaman es dan tumbuh-tumbuhan tidak bisa berfotosintesis selama beberapa lama. Bahkan, debu vulkanik yang mengandung sulfur itu membeku dalam lapisan es di Greenland.
supervolcano
Mata air panas di kaki Gunung Pusukbuhit. Foto: Oki Oktariadi
Ambrose (1998), yang meneliti DNA manusia purba, menyebutkan saat itu terjadi “genetic bottleneck” yang ditandai berkurangnya kelimpahan genetik dan populasi manusia. Lebih jauh disebutkan, jumlah manusia saat itu (generasi Homo sapiens awal seperti Homo Sapiens Neanderthalensis dan sejenisnya) merosot hingga tinggal 10 % dari populasi semula. Bahkan, akibat letusan raksasa Toba diduga menyebabkan Homo Neanderthalensis berevolusi menjadi lebih lemah.
Katastrofik berikutnya terjadi pada 12.900 tahun silam di ujung zaman es. Saat itu asteroid/ komet berdiameter 5 km jatuh ke Bumi dan meledak pada ketinggian 60 km di atas Eropa–Amerika. Ledakannya melepaskan energi 10 juta megaton TNT. Manusia neanderthal itu tidak sanggup lagi bertahan dan punah bersama kawanan mammoth, sang gajah raksasa. Stephen Oppenheimer, dalam Journey of Mankind Interactive Trail Adapted from “Out Of Eden”/ “The Real Eve” (2003) menyebutkan ras manusia berkurang menjadi hanya beberapa ribu orang akibat letusan Toba.
Ketebalan endapan Tuff Muda Toba yang terdapat pada dinding kaldera mencapai 400 m. Di Pulau Samosir, endapan tuff tersebut mencapai tebal > 600 m. Secara keseluruhan debu vulkanik diperkirakan menutupi area sedikitnya 4 juta km2, sekitar separuh ukuran benua Amerika Serikat. Itulah sebabnya Letusan Toba tersebut pantas disebut sebagai supervolcano.
Lama berselang, lambat laun kaldera terisi air dan terciptalah Danau Toba. Orang seolah melupakan gunung api raksasa yang pernah ada karena secara fisik memang sudah tidak nampak. Pada hakikatnya fenomena Gunung Raksasa Toba yang legendaris itu tidak hilang begitu saja. Kehadiran Gunung Pusukbuhit yang menyebarkan aroma belerang khas gunung api dari lapangan solfatara, masih menyimpan kenangan itu. Ini bisa diartikan aktivitas vulkanisme di Kompleks Kaldera Toba belum sirna, meskipun tubuhnya tidak lagi berukuran raksasa.
Gunung Pusukbuhit, yang disebut juga Busukbukit, berada pada posisi geografi 2o 37’ Lintang Utara dan 98o 39’ Bujur Timur mencapai tinggi 1.981 m atau 1.075 m di atas permukaan Danau Toba (Neumann van Padang, 1951). Ada tiga kecamatan yang berada di sekitar gunung tersebut, yakni Kecamatan Sianjur Mula-mula, Pangururan, dan Harian Boho. Aktivitas vulkanismenya masuk ke dalam wilayah Kecamatan Sianjur Mula-mula.
supervolcano
Polatektonik yang mempengaruhi KalderaToba, (PetaTektonikdimodifikasi dariSimkineta, 2006).
Mitos dan Tradisi Masyarakat Toba
Bagi masyarakat yang bersandar kepada kelisanan, hal-hal yang berada di luar kemampuan nalarnya dihubungkan dengan kekuatan gaib. Untuk berkomunikasi dengan alam gaib yang ada di sekitarnya, mereka melakukan upacara yang disertai sesajen dan doa. Upacara tersebut sesungguhnya dimaksudkan agar tercipta keseimbangan antara manusia dan alam sekitarnya.
Itupun terjadi pada masyarakat sekitar Danau Toba. Mereka percaya, Gunung Pusukbuhit adalah tempat turunnya Raja Batak. Konon, Siboru Deak Parujar, dewi cantik, turun dari kayangan karena tidak mau dijodohkan dengan Siraja Odap-Odap, meskipun keduanya keturunan dewa. Selain Siraja, ada raksasa bernama Naga Padoha Niaji yang juga jatuh hati kepada Siboru. Karena cintanya ditolak, maka setiap saat sang raksasa selalu mengganggu dengan menggoyang tempat tinggal Siboru dan mengakibatkan gempa bumi. Demi ketentraman tempat tinggalnya, maka Siboru menerima pinangan Siraja Odap-Odap agar menjadi pelindungnya. Mereka mempunyai banyak keturunan. Di antaranya, Raja Batak yang diturunkan di Busukbuhit.
Sang Raja kemudian membangun perkampungan di lembah gunung Sianjur Mula-mula. Perkampungan itu berada di garis lingkar Pusukbuhit di lembah Sagala dan Limbong Mulana. Secara turun-temurun kampung ini menjadi tempat upacara pemujaan dan permohonan doa agar selamat dari bencana, gagal panen, dan wabah penyakit. Tradisi ini membuat masyarakat Batak Toba merasa aman dan nyaman tinggal di wilayah Samosir dan sekitarnya. Mereka juga tidak merasa takut gunung api meletus.
Teror Gempa bumi dan Letusan Gunung Sinabung
Rasa aman dan nyaman yang dinikmati masyarakat Toba dan sekitarnya selama ini terusik isu gempa bumi akibat penunjaman megathrust Sumatra-Andaman yang diprediksi terjadi pada 2004 dengan besaran 9,15 Mw. Kabar burung itu tidak terbukti. Tetapi muncul kekhawatiran lainnya. Meletusnya Gunung Sinabung, Sumatra Utara, yang juga tipe B, membuat masyarakat Toba ketar-ketir. Akankah Pusukbuhit juga segera menyusul?
Kekhawatiran itu bukannya tanpa alasan. Krakatau bangkit dari tidur panjangnya selama 200-an tahun setelah gempa bumi mengguncang kawasan Selat Sunda di awal 1883. Namun, yang agak melegakan adalah gempa bumi besar yang menyebabkan tsunami di Aceh pada tahun 2004 tidak mengusik satu pun gunung api di wilayah itu. Boleh jadi pelepasan energi yang terkumulasi selama ini telah terbebas oleh gempa bumi.
supervolcano
Lembah Sagala dengan hijauanya sawah yang menjadi sumber kehidupan masyarakat. Foto: Oki Oktariadi
Kearifan Lokal dan Mitigasi Bencana
Letusan gunung api raksasa itu akhirnya membawa berkah. Keindahan alam, air yang melimpah, hasil ikan Danau Toba dan adanya mata air panas mengundang
wisatawan lokal dan mancanagara. Itu semua berati tambahan penghasilan bagi penduduk dan pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Samosir.
Fenomena Gunung Pusukbuhit juga menarik perhatian berbagai disiplin ilmu, di antaranya geologi lingkungan, vulkanologi, atau antroplogi. Dari sudut pandang geologi lingkungan, Pusukbuhit dianggap sebagai situs cagar alam geologi yang menggambarkan Danau Toba dibentuk oleh aktivitas tektonik dan vulkanisme di masa lalu dan dapat dijadikan objek geowisata.
Dari segi kegunungapian, Pusukbuhit adalah gunung api yang memiliki kawah, tetapi tidak diketahui waktu letusannya di masa lalu. Gunung api tipe B ini dapat meletus seperti Sinabung, meskipun kemungkinannya sangat kecil. Pakar antropologi menyebutkan bahwa, Pusukbuhit disakralkan masyarakat Batak yang memiliki hubungan mitologis bernuansa sejarah.
Pada lereng Pusukbuhit, barisan rumah penduduk melingkari gunung. Di depannya terdapat lapangan luas yang tidak becek dan juga tidak berdebu. Kondisi lingkungan yang disebut huta ini pada umumnya berorientasi ke arah Pusukbuhit, namun ada beberapa yang berorientasi ke bukit terdekat.
Menurut Sitor Situmorang, huta merupakan tempat kediaman yang selalu berada di lereng bukit atau gunung dan tidak dipergunakan sebagai persawahan. Hal tersebut dihubungkan dengan konsep Pusukbuhit sebagai kiblatnya orang Batak. Karena kawasan tersebut merupakan tempat keramat untuk berbagai upacara.
supervolcano
Sopo Guru Tatea Bulan di Kecamatan Sianjur Mula Mula, Kabupaten Samosir, tempat turunnya Raja Batak. Foto: Oki Oktariadi
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan pada beberapa lokasi, umumnya penempatan lokasi pemukiman berada di dasar lembah pada lereng bagian atas punggungan bukit yang merupakan bahan rombakan (longsoran lama) yang cukup stabil. Tentunya tempat seperti itu dari sudut pandang hidrogeologi banyak mengandung sumber air tanah dangkal maupun mata air yang dibutuhkan pemukim. Sementara jalan-jalan antar huta dibuat dengan memangkas bagian lereng bukitnya dan batas-batas huta adalah sisa hasil pemangkasan tersebut yang juga berfungsi sebagai benteng tanah dari huta.
Keberadaan benteng batu kemungkinan juga dihubungkan dengan faktor keamanan dari serangan musuh dan binatang buas. Benteng huta ini juga dihubungkan dengan kepercayaan sebagai tembok magis penangkal pengaruh buruk dari luar yang dapat mengganggu huta, baik wabah penyakit maupun roh-roh jahat. Selain itu, benteng huta dihubungkan dengan kepercayaan bahwa leluhur harus ditempatkan pada tempat yang berada di atas supaya dapat terus melihat dan membimbing anak dan cucunya.
Kearifan lokal yang dikembangkan masyarakat Batak di Kawasan Toba secara tidak langsung telah memperhatikan kaidah-kaidah geologi lingkungan yang berkaitan dengan potensi sumber daya dan bahaya geologi yang ada disekitar huta. Misalnya, cara pemilihan lokasi dan pengelolaan lahan yang dapat diartikan sebagai upaya agar masyarakat tidak mengganggu areal persawahan yang berada di dasar lembah yang mengelilingi huta. Contoh lainnya, memindahkan material batuan pada lokasi pilihan dan menyusunnya menjadi benteng huta untuk menjaga huta dari pengaruh cuaca yang berubahubah, terutama angin.
Huta sebagai pemukiman tradisional Batak Toba merupakan hasil adaptasi lingkungan masyarakat di sana untuk menjawab tantangan alam. Namun keadaan tersebut lambat laun tergerus pengaruh luar
Dengan semua fenomena yang dimilikinya, Kawasan Pusukbuhit layak dikonservasi, artinya pemanfaatan ruang dapat dilakukan secara terbatas dan bijak untuk kelangsungan hidup manusia di sekitarnya.
yang tidak sesuai dengan tatanan tradisional atau kearifan lokal mereka. Padahal, pemahaman terhadap mitigasi bencana dapat direalisasikan dengan mengintegrasikan pola mitigasi tradisional dan modern menjadi satu kesatuan yang memberikan dampak ketaatan masyarakat secara spiritual maupun konseptual. Masyarakat akan memiliki kewaspadaan yang tinggi dalam menghadapi kemungkinan datangnya bencana, tanpa mengurangi rasa aman dan kenyamanan dalam kehidupan sehari-hari.
Begitu pula keberadaan sumber air panas harus memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat setempat melalui pengembangan wisata. Apalagi saat ini kawasan Pusukbuhit banyak menarik minat wisatawan domestik maupun internasional. Dalam hal itu, pengelolaan lingkungannya harus dapat memberikan kenyamanan bagi wisatawan dan keuntungan bagi masyarakat setempat. Dengan gambaran di atas, Gunung Pusukbuhit jelas memiliki nilai warisan geologi (geological heritages) yang terintegrasi dengan warisan budaya (cultural heritages). Itu artinya, masyarakat di Kawasan Pusukbuhit sudah sejak lama membina hubungan harmonis dengan segala potensi alam di sana. Hubungan itu dibakukan dalam berbagai ekspresi baik sebagai sistem sosial, budaya, seni maupun spiritualitasnya. Semua itu dilakukan agar harmonis dengan alam semesta.
Dengan semua fenomena yang dimilikinya, Kawasan Pusukbuhit layak dikonservasi, artinya pemanfaatan ruang dapat dilakukan secara terbatas dan bijak untuk kelangsungan hidup manusia di sekitarnya. Oleh karena itu, pengembangan ideal untuk Kawasan Pusukbuhit adalah pengembangan Taman Bumi Kaldera Toba.

Penulis adalah Penyelidik Bumi Madya, Ketua Dewan Redaksi Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, dan Ketua Dewan Redaksi Buletin Geologi Tata Lingkungan, Badan Geologi, KESDM.