Cari Blog Ini

Festival Toba Samosir 2014 Dimeriahkan 10 Atraksi Budaya

BALIGE, KOMPAS.com - Sepuluh atraksi budaya dijadwalkan akan digelar untuk memeriahkan Festival Danau Toba (FDT) di Balige, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), Sumatera Utara,  Juli 2014.
“Sepuluh kegiatan tersebut tercantum dalam surat Kemenparekraf tanggal 7 November tentang penunjukan Kabupaten Tobasa sebagai tuan rumah pelaksanaan FDT 2014,” ungkap Kepala Disbudpar Tobasa, Ultri Sonlahir Simangunsong di Balige, Senin (2/12/2013).
Jenis perlombaan yang akan meramaikan pesta rakyat itu, yakni, pertunjukan budaya, Lake Toba World Drum Festival, fashion show, lomba renang internasional dan lomba renang tradisonal serta pameran pariwisata dan ekonomi kreatif.
Selain itu, akan diadakan perlombaan solu bolon sejenis perahu besar(dragon boat), paralayang, arung jeram, seminar pariwisata dan lomba nyanyi paduan suara solo.
Di samping itu, menurut Ultri, kemungkinan akan ditambahkan sejumlah atraksi budaya lokal, seperti Monsak Batak (seni olahraga beladiri) dan berbagai permainan rakyat yang dulu sering dimainkan untuk turut diperlombakan.
Erupsi Sinabung Tak Berdampak pada Pariwisata Sumut

Erupsi Sinabung Tak Berdampak pada Pariwisata Sumut

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) memastikan sektor pariwisata Sumatera Utara (Sumut) secara umum tidak terdampak secara signifikan oleh erupsi Gunung Sibanung.
"Erupsi Gunung Sinabung hanya berdampak terhadap daerah di sekitar radius lima kilometer. Hal ini tidak mempengaruhi perjalanan wisatawan ke Sumatera Utara," kata Direktur Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata Kemenparekraf, Firmansyah Rahim di Jakarta, Rabu (5/2/2014).
Kemenparekraf memantau erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara yang masih berlangsung hingga saat ini tidak mempengaruhi perjalanan wisatawan melalui Bandara Kualanamu, Medan, karena lokasinya relatif jauh.
Firmansyah mengatakan, erupsi Sinabung juga tidak berdampak pada destinasi favorit di Sumut seperti Danau Toba dan Kota Medan yang selama ini banyak dikunjungi wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara (wisman).
Menurut Firmansyah, upaya pemerintah terhadap musibah bencana Sinabung saat ini fokus pada penanganan para pengungsi, yakni bagaimana agar pengungsi di tempat penampungan tetap sehat dan aman dengan ketersediaan makanan dan obat-obatan yang mencukupi.
"Pasca tanggap darurat nanti pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat diharapkan bahu-membahu untuk mempercepat pemulihan," kata Firmansyah.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Pusdatin Kemenparekraf menunjukkan kunjungan wisman melalui pintu masuk Bandara Kualanamu Medan pada tiga bulan pertama yakni Januari, Februari, dan Maret 2013 pada kondisi "low season" masing-masing sebanyak 14.405 orang (Januari), 16.419 orang (Februari), dan 17.932 orang (Maret).
Sementara pada April 2013 menunjukkan tren sedikit menurun sebesar 15.011 orang, kemudian memasuki "high season" Mei dan Juni naik kembali masing-masing sebanyak 20.659 orang dan 20.729 orang.
Puncak kunjungan wisman melalui Kualanamu terjadi pada November dan Desember 2013 sebesar 24.784 dan 27.948 orang atau dua kali lipat lebih besar dibanding saat "low season" pada Januari 2013.
BARRY KUSUMADesa Suhi Suhi di Pulau Samosir, Sumatera Utara.
Firmansyah mengatakan, sepanjang tahun 2013 jumlah wisman yang berkunjung ke Indonesia sebanyak 8.802.129 orang atau mengalami pertumbuhan sebesar 9,42 persen dibandingkan tahun 2012 sebesar 8.044.462 orang. Sedangkan perolehan devisa pariwisata 2013 sebesar 10 miliar dollar AS atau meningkat 10,23 persen.
"Meningkatnya kunjungan wisman 2013 antara lain karena semakin mudahnya aksesibilitas ke destinasi pariwisata," katanya.
Firmansyah mencontohkan, saat ini konektivitas penerbangan langsung dari negara-negara sumber wisman ke destinasi unggulan di Indonesia, antara lain Danau Toba Sumut, maupun adanya fasilitas bandara baru seperti Kualanamu Medan semakin bertambah sehingga banyak maskapai penerbangan internasional membuka jalur baru atau menambah frekuensi penerbangan ke Kualanamu.
Pulau Samosir, Unik dan Disukai Turis

Pulau Samosir, Unik dan Disukai Turis

KOMPAS.com - Pulau Samosir di Sumatera Utara adalah pulau yang sangat unik karena merupakan pulau vulkanik yang berada di tengah Danau Toba. Ketinggiannya 1.000 meter di atas permukaan laut. Inilah yang membuat pulau ini menjadi perhatian turis domestik maupun asing.
Menuju Pulau Samosir bisa dilakukan pagi hari dengan membeli tiket feri seharga Rp 10.000 per orang. Dan, sambil menunggu keberangkatan kapal, kita bisa hunting foto di sekitar danau, mengabadikan keindahan dan luasnya Danau Toba.
Selain sebagai tempat wisata, ternyata danau ini menjadi tumpuan hidup masyarakat sekitarnya. Mereka menggunakan air Danau Toba sebagai mata air utama dalam kehidupan sehari-hari. Ada dua tipe feri yang melayani rute ke Pulau Samosir, yaitu feri yang mengangkut penumpang saja dan feri yang mengangkut kendaraan roda empat.
BARRY KUSUMAPulau Samosir d Sumatera Utara.
Jika menggunakan mobil, Anda akan menumpang feri jenis kedua (yang mengangkut kendaraan beroda empat). Selama menyeberang, kita akan disuguhi pemandangan alam danau yang indah, langit biru, dan udara yang sejuk. Cuaca Danau Toba bahkan bisa menghipnotis pengunjung sehingga betah berlama-lama di sini.
Mobil adalah alat transportasi yang sangat penting bagi keluarga yang ingin berkeliling pulau. Di Samosir memang tidak ada angkutan umum. Anda harus menyewa kendaraan berupa sepeda atau sepeda motor jika ingin berjalan-jalan. Ongkos sewa motor antara Rp 70.000 hingga Rp 80.000 per hari.
Di pulau ini juga terdapat beberapa penginapan losmen yang sebagian tidak memiliki nomor telepon. Untuk menginap, kita bisa langsung memesan penginapan secara go show. Jika penginapan sudah penuh, kita bisa meminta tolong penduduk sekitar atau pemilik hotel untuk mencarikan rumah penduduk yang bisa disewakan sebagai tempat menginap. Tarif losmen sekitar Rp 100.000 – Rp 150.000. Wisatawan memang jarang menginap di Samosir.
Namun, jika bepergian secara backpacker, sesampainya di Pulau Samosir kita bisa menyewa ojek atau bermalam di sana.
BARRY KUSUMABatu persidangan
Uniknya, pulau ini memiliki obyek wisata danau. Terdapat dua danau di pulau yang berada di tengah Danau Toba, yaitu Danau Sidihoni dan Aek Natonang. Selain itu, pulau ini juga menawarkan banyak keunikan budaya dan sejarah lainnya. Misalnya saja Pusuk Buhit yang dipercaya sebagai tempat asal suku Batak.
Menariknya, di sini terdapat panggung batu. Untuk mendapatkan penjelasan tentang panggung batu, kita bisa menyewa penduduk sekitar sebagai pemandu. Setelah puas mendengarkan kisah tersebut, kita pun bisa berbelanja suvenir, berupa ukiran kayu dan kain tradisional di kios-kios cenderamata.
Obyek wisata lain yang tidak kalah menarik adalah pemandian air panas dan Museum Adat Budaya Batak. Museum ini cukup unik karena berada di ruang terbuka dan di sana ada banyak batu peninggalan raja yang konon asal mula orang Batak. Penjaga museum pun fasih menjelaskan sejarah masa lalu.
Di Pulau Samosir yang konon dikenal sebagai tempat asal mula orang Batak ini menyimpan banyak peninggalan Budaya masa lampau.
Kampung Siallagan
Kampung ini terletak di Desa Ambarita Pulau Samosir. Perkampungan yang mirip benteng ini lokasinya berdekatan dengan Danau Toba dan cukup banyak dikunjungi wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara.
BARRY KUSUMAKampung Siallagan di Pulau Samosir, Sumatera Utara.
Anda akan terkagum-kagum mengamati bagaimana perkampungan ini dikelilingi batu-batu besar disusun bertingkat secara rapi. Dulunya tembok tersebut dilengkapi bambu dan benteng ini berfungsi untuk menjaga perkampungan dari gangguan binatang buas maupun serangan suku lain.
Perkampungan ini dibangun pada masa Raja Laga Siallagan. Kemudian diwariskan kepada keturunan berikutnya sampai dengan sekarang. Yang unik di sini terdapat Batu Persidangan. Dinamakan Batu Parsidangan karena memang fungsinya untuk mengadili penjahat atau pelanggar hukum adat (kasus pembunuhan, pencurian, pemerkosaan, dan lainnya) atau juga untuk musuh politik dari sang raja.
BARRY KUSUMAKampung Siallagan di Pulau Samosir, Sumatera Utara.
Dari kisah inilah kemudian sempat menjadi sebuah stereotipe bahwa masyarakat Batak melakukan praktek kanibalisme. Ritual ini perlahan hilang setelah agama Kristen tersebar di wilayah Samosir oleh seorang pendeta asal Jerman bernama Dr. Ingwer Ludwig Nommensen pada pertengahan abad ke-19.
Raja Siallagan yang sebelumnya masih menganut agama asli Batak (Parmalim) kemudian memeluk Kristen dan tidak melanjutkan ritual kanibalisme itu lagi. Sekarang Huta Siallagan hanya berfungsi sebagai desa wisata saja untuk mengenang sejarah dan budaya salah satu suku di Tanah Batak.
Pemandu wisata ke tempat ini pastinya akan menceritakan hal ini lebih terinci dan dimaksudkan sebagai pelajaran dari bentuk tradisi di zaman dahulu dan tidak ada maksud lainnya.
Desa Suhi Suhi
Desa Suhi Suhi berada dekat dengan pelabuhan Tomok dan kota Kabupaten Samosir, yaitu Pangururan. Untuk mencapai desa ini, dibutuhkan waktu sekitar 40 menit dari Desa Tomok atau 20 menit dari Pangururan melalui jalan darat.
BARRY KUSUMADesa Suhi Suhi di Pulau Samosir, Sumatera Utara.
Tidak ada tiket masuk yang dikenakan bagi pengunjung yang ingin berwisata ke desa ini. Namun saat ini para perajin kain ulos tradisional semakin langka. Tetapi di Desa Suhi Suhi ini hampir sebagian besar perajin baik tua dan muda sedang menenun Ulos.
Di Desa ini kita bisa melihat proses penenunan kain Ulos yang terbilang rumit, dan membutuhkan banyak waktu, kesabaran dan ketelitian yang tinggi. Tidak heran kalau harga yang ditawarkan bisa mulai dari Rp 250.000 sampai Rp 5.000.000. Buat pencinta kain tradisional sangat disarankan untuk datang ke desa ini. Di sini wisatawan bisa membeli Ulos sekaligus belajar cara menenun. (BARRY KUSUMA)
BARRY KUSUMAPenenun kain Ulos di Desa Suhi Suhi, Pulau Samosir, Sumatera Utara.

BARRY KUSUMAKampung Siallagan di Pulau Samosir, Sumatera Utara.

Etalase Geopark Toba Bakal Hadir di Samosir

JAKARTA, KOMPAS.com - Rencananya, di kawasan Danau Toba, Sumatera Utara, akan dikembangkan sebuah taman bumi atau geopark. Hal ini cocok untuk pengembangan wisata minat khusus.
“Letusan Gunung Toba ratusan ribu tahun yang lalu membuat dunia berubah. Ini sedang kita persiapkan secara ilmiah untuk menjadikan Geopark Toba. Etalasenya sedang kita persiapkan dan akan dibangun di Samosir,” kata Bupati Samosir, Mangindar Simbolon saat ditemui di Jakarta, Jumat (26/7/2013).
Walaupun Danau Toba memiliki potensi wisata yang begitu besar, menurut Mangindar, kurangnya acara wisata membuat potensi tersebut kurang berkembang. Untuk itulah, tutur Mangindar, diadakan Festival Danau Toba sebagai penarik minat wisatawan.
Mangindar menjelaskan penginapan sebagai pendukung pariwisata pun sudah tersedia di kawasan Danau Toba. Berbagai penginapan ada di masing-masing kabupaten di sekitar Danau Toba. Tidak hanya hotel di sekitar Danau Toba, akomodasi di Medan, pun kini sudah menjamur.
Selain itu, lanjut Mangindar, dengan adanya bandara baru yaitu Bandara Internasional Kualanamu, diharapkan bisa meningkatkan potensi wisata Danau Toba. Sebab bandara ini dipandang dapat menjadi pintu gerbang Indonesia bagian barat untuk wisatawan domestik dan internasional.
Pusukbuhit Sisa Supervolcano di Tepi Danau Toba

Pusukbuhit Sisa Supervolcano di Tepi Danau Toba

supervolcano
Gunung Pusukbuhit yang disakralkan. Warna putih adalah solfatara. Foto: Oki Oktariadi
Danau Toba yang berada di jalur sesar aktif Sumatra sejatinya merupakan kaldera hasil letusan gunung api raksasa (supervolcano) yang diperkirakan terbentuk sejak 1 juta hingga 74 ribu tahun lalu. Letusan dahsyat itu mempengaruhi iklim dan meluluhlantakkan sebagian peradaban dunia. Saat ini, di Kawasan Toba tersaji keindahan alam yang menakjubkan, sementara aktivitas vulkanismenya seolah tertidur nyenyak. Namun, hakikatnya vulkanisme Toba tetap berlangsung. Tandanya adalah kehadiran Gunung Pusukbuhit yang di tepi danau. Bagi masyarakat Batak, gunung api bertipe B ini adalah tempat diturunkannya Raja Batak dari langit. Berbagai upacara adat dilakukan di lokasi ini, seperti perkawinan, syukuran hasil panen. Bahkan memohon doa restu sebelum berangkat merantau. Itulah sebabnya Pusukbuhit sangat disakralkan.
Danau Toba merupakan bagian dari dataran tinggi yang meliputi dua belas kabupaten/kota di Provinsi Sumatra Utara. Untuk mencapainya dari Medan dapat menggunakan bus melalui Parapat selama sekitar 5 jam. Alternatif lain, dapat menggunakan kereta api jalur Pematangsiantar atau Tebingtinggi, dilanjutkan dengan kendaraan roda empat menuju Parapat.
Kaldera Toba merupakan salah satu fitur vulkanik yang luar biasa yang terbentuk selama dua setengah juta tahun yang lalu. Penelitian mengenai Kaldera Toba hingga kini menghasilkan informasi yang penting dalam ilmu kebumian, khususnya kegunungapian. Informasi itu antara lain pola pembentukan bentang alam, adanya kaldera silikat, evolusi geokimia, pola periodik letusan, juga menggambarkan pola migrasi aktivitas vulkanik ke barat yang menghasilkan letusan supervolcano.
supervolcano
Peta lokasi Danau Toba, Sumatera Utara. Sumber: Atlas Nasional
Danau Toba merupakan kaldera yang sangat besar berukuran 30 hingga 100 km. Tinggi reliefnya mencapai 1.700 m. Kaldera ini terbentuk dalam beberapa periode letusan, yang terjadi pada 840.000, 700.000, dan 75.000 tahun yang lalu. Van Bemmelen (1949) berpendapat, sejarah pembentukan Danau Toba diawali dengan terbentuknya Tumor Batak seluas 300 km2 di antara Sungai Wampu di bagian utara dan Sungai Barumun di selatan. Pembentukan kubah (dome) akibat pengangkatan setinggi 2.000 meter itu ditunjukkan oleh puncak pegunungan seperti Gunung Sibuatan (2.457 m) di barat laut, Gunung Pangulubao (2.151 m) di timur, Gunung Surungan (2.173 m) di tenggara, dan Gunung Uludarat (2.157 m) di sebelah barat.
Letusan Supervocano dan dampaknya terhadap kehidupan
Letusan kolosal yang terjadi pada 74.000 tahun yang lalu menghasilkan endapan lapilli (Toba Muda Kerikil) yang ditemukan hingga ke wilayah India, yang berjarak sekitar 3.000 km dari pusat letusan. Seluruh permukaan Anak Benua India tertutupi material letusan dengan ketebalan rata-rata 15 cm dan tertinggi 6 m. Hal tersebut terbukti dengan adanya abu riolit di sekitar Danau Toba yang sama dengan temuan di Malaysia dan India, bahkan di dasar lautan India Timur dan perairan Teluk Bengal, kurang lebih 3.100 km dari Toba. Bill Rose dan Craig Chesner dari Michigan Technological University menyimpulkan, total material letusan gunung api raksasa ini sekitar 2.800 km3. Sebanyak 800 km3 ignimbrit mengalir di dataran dan diperkirakan 2.000 km3 sebagai abu yang diterbangkan angin ke arah barat.
Debu vulkanik yang disemburkan ke angkasa saat letusan dahsyat yang berlangsung selama dua minggu tanpa henti itu membentuk tirai penghalang cahaya matahari yang sangat tebal di lapisan stratosfer. Hal itu menyebabkan intensitas cahaya matahari yang jatuh ke permukaan Bumi menurun drastic, tinggal 1% dari nilai normalnya. Dampaknya, suhu global menurun hingga 3 – 3,5º C dari suhu normal dan memicu terjadinya salah satu zaman es dan tumbuh-tumbuhan tidak bisa berfotosintesis selama beberapa lama. Bahkan, debu vulkanik yang mengandung sulfur itu membeku dalam lapisan es di Greenland.
supervolcano
Mata air panas di kaki Gunung Pusukbuhit. Foto: Oki Oktariadi
Ambrose (1998), yang meneliti DNA manusia purba, menyebutkan saat itu terjadi “genetic bottleneck” yang ditandai berkurangnya kelimpahan genetik dan populasi manusia. Lebih jauh disebutkan, jumlah manusia saat itu (generasi Homo sapiens awal seperti Homo Sapiens Neanderthalensis dan sejenisnya) merosot hingga tinggal 10 % dari populasi semula. Bahkan, akibat letusan raksasa Toba diduga menyebabkan Homo Neanderthalensis berevolusi menjadi lebih lemah.
Katastrofik berikutnya terjadi pada 12.900 tahun silam di ujung zaman es. Saat itu asteroid/ komet berdiameter 5 km jatuh ke Bumi dan meledak pada ketinggian 60 km di atas Eropa–Amerika. Ledakannya melepaskan energi 10 juta megaton TNT. Manusia neanderthal itu tidak sanggup lagi bertahan dan punah bersama kawanan mammoth, sang gajah raksasa. Stephen Oppenheimer, dalam Journey of Mankind Interactive Trail Adapted from “Out Of Eden”/ “The Real Eve” (2003) menyebutkan ras manusia berkurang menjadi hanya beberapa ribu orang akibat letusan Toba.
Ketebalan endapan Tuff Muda Toba yang terdapat pada dinding kaldera mencapai 400 m. Di Pulau Samosir, endapan tuff tersebut mencapai tebal > 600 m. Secara keseluruhan debu vulkanik diperkirakan menutupi area sedikitnya 4 juta km2, sekitar separuh ukuran benua Amerika Serikat. Itulah sebabnya Letusan Toba tersebut pantas disebut sebagai supervolcano.
Lama berselang, lambat laun kaldera terisi air dan terciptalah Danau Toba. Orang seolah melupakan gunung api raksasa yang pernah ada karena secara fisik memang sudah tidak nampak. Pada hakikatnya fenomena Gunung Raksasa Toba yang legendaris itu tidak hilang begitu saja. Kehadiran Gunung Pusukbuhit yang menyebarkan aroma belerang khas gunung api dari lapangan solfatara, masih menyimpan kenangan itu. Ini bisa diartikan aktivitas vulkanisme di Kompleks Kaldera Toba belum sirna, meskipun tubuhnya tidak lagi berukuran raksasa.
Gunung Pusukbuhit, yang disebut juga Busukbukit, berada pada posisi geografi 2o 37’ Lintang Utara dan 98o 39’ Bujur Timur mencapai tinggi 1.981 m atau 1.075 m di atas permukaan Danau Toba (Neumann van Padang, 1951). Ada tiga kecamatan yang berada di sekitar gunung tersebut, yakni Kecamatan Sianjur Mula-mula, Pangururan, dan Harian Boho. Aktivitas vulkanismenya masuk ke dalam wilayah Kecamatan Sianjur Mula-mula.
supervolcano
Polatektonik yang mempengaruhi KalderaToba, (PetaTektonikdimodifikasi dariSimkineta, 2006).
Mitos dan Tradisi Masyarakat Toba
Bagi masyarakat yang bersandar kepada kelisanan, hal-hal yang berada di luar kemampuan nalarnya dihubungkan dengan kekuatan gaib. Untuk berkomunikasi dengan alam gaib yang ada di sekitarnya, mereka melakukan upacara yang disertai sesajen dan doa. Upacara tersebut sesungguhnya dimaksudkan agar tercipta keseimbangan antara manusia dan alam sekitarnya.
Itupun terjadi pada masyarakat sekitar Danau Toba. Mereka percaya, Gunung Pusukbuhit adalah tempat turunnya Raja Batak. Konon, Siboru Deak Parujar, dewi cantik, turun dari kayangan karena tidak mau dijodohkan dengan Siraja Odap-Odap, meskipun keduanya keturunan dewa. Selain Siraja, ada raksasa bernama Naga Padoha Niaji yang juga jatuh hati kepada Siboru. Karena cintanya ditolak, maka setiap saat sang raksasa selalu mengganggu dengan menggoyang tempat tinggal Siboru dan mengakibatkan gempa bumi. Demi ketentraman tempat tinggalnya, maka Siboru menerima pinangan Siraja Odap-Odap agar menjadi pelindungnya. Mereka mempunyai banyak keturunan. Di antaranya, Raja Batak yang diturunkan di Busukbuhit.
Sang Raja kemudian membangun perkampungan di lembah gunung Sianjur Mula-mula. Perkampungan itu berada di garis lingkar Pusukbuhit di lembah Sagala dan Limbong Mulana. Secara turun-temurun kampung ini menjadi tempat upacara pemujaan dan permohonan doa agar selamat dari bencana, gagal panen, dan wabah penyakit. Tradisi ini membuat masyarakat Batak Toba merasa aman dan nyaman tinggal di wilayah Samosir dan sekitarnya. Mereka juga tidak merasa takut gunung api meletus.
Teror Gempa bumi dan Letusan Gunung Sinabung
Rasa aman dan nyaman yang dinikmati masyarakat Toba dan sekitarnya selama ini terusik isu gempa bumi akibat penunjaman megathrust Sumatra-Andaman yang diprediksi terjadi pada 2004 dengan besaran 9,15 Mw. Kabar burung itu tidak terbukti. Tetapi muncul kekhawatiran lainnya. Meletusnya Gunung Sinabung, Sumatra Utara, yang juga tipe B, membuat masyarakat Toba ketar-ketir. Akankah Pusukbuhit juga segera menyusul?
Kekhawatiran itu bukannya tanpa alasan. Krakatau bangkit dari tidur panjangnya selama 200-an tahun setelah gempa bumi mengguncang kawasan Selat Sunda di awal 1883. Namun, yang agak melegakan adalah gempa bumi besar yang menyebabkan tsunami di Aceh pada tahun 2004 tidak mengusik satu pun gunung api di wilayah itu. Boleh jadi pelepasan energi yang terkumulasi selama ini telah terbebas oleh gempa bumi.
supervolcano
Lembah Sagala dengan hijauanya sawah yang menjadi sumber kehidupan masyarakat. Foto: Oki Oktariadi
Kearifan Lokal dan Mitigasi Bencana
Letusan gunung api raksasa itu akhirnya membawa berkah. Keindahan alam, air yang melimpah, hasil ikan Danau Toba dan adanya mata air panas mengundang
wisatawan lokal dan mancanagara. Itu semua berati tambahan penghasilan bagi penduduk dan pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Samosir.
Fenomena Gunung Pusukbuhit juga menarik perhatian berbagai disiplin ilmu, di antaranya geologi lingkungan, vulkanologi, atau antroplogi. Dari sudut pandang geologi lingkungan, Pusukbuhit dianggap sebagai situs cagar alam geologi yang menggambarkan Danau Toba dibentuk oleh aktivitas tektonik dan vulkanisme di masa lalu dan dapat dijadikan objek geowisata.
Dari segi kegunungapian, Pusukbuhit adalah gunung api yang memiliki kawah, tetapi tidak diketahui waktu letusannya di masa lalu. Gunung api tipe B ini dapat meletus seperti Sinabung, meskipun kemungkinannya sangat kecil. Pakar antropologi menyebutkan bahwa, Pusukbuhit disakralkan masyarakat Batak yang memiliki hubungan mitologis bernuansa sejarah.
Pada lereng Pusukbuhit, barisan rumah penduduk melingkari gunung. Di depannya terdapat lapangan luas yang tidak becek dan juga tidak berdebu. Kondisi lingkungan yang disebut huta ini pada umumnya berorientasi ke arah Pusukbuhit, namun ada beberapa yang berorientasi ke bukit terdekat.
Menurut Sitor Situmorang, huta merupakan tempat kediaman yang selalu berada di lereng bukit atau gunung dan tidak dipergunakan sebagai persawahan. Hal tersebut dihubungkan dengan konsep Pusukbuhit sebagai kiblatnya orang Batak. Karena kawasan tersebut merupakan tempat keramat untuk berbagai upacara.
supervolcano
Sopo Guru Tatea Bulan di Kecamatan Sianjur Mula Mula, Kabupaten Samosir, tempat turunnya Raja Batak. Foto: Oki Oktariadi
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan pada beberapa lokasi, umumnya penempatan lokasi pemukiman berada di dasar lembah pada lereng bagian atas punggungan bukit yang merupakan bahan rombakan (longsoran lama) yang cukup stabil. Tentunya tempat seperti itu dari sudut pandang hidrogeologi banyak mengandung sumber air tanah dangkal maupun mata air yang dibutuhkan pemukim. Sementara jalan-jalan antar huta dibuat dengan memangkas bagian lereng bukitnya dan batas-batas huta adalah sisa hasil pemangkasan tersebut yang juga berfungsi sebagai benteng tanah dari huta.
Keberadaan benteng batu kemungkinan juga dihubungkan dengan faktor keamanan dari serangan musuh dan binatang buas. Benteng huta ini juga dihubungkan dengan kepercayaan sebagai tembok magis penangkal pengaruh buruk dari luar yang dapat mengganggu huta, baik wabah penyakit maupun roh-roh jahat. Selain itu, benteng huta dihubungkan dengan kepercayaan bahwa leluhur harus ditempatkan pada tempat yang berada di atas supaya dapat terus melihat dan membimbing anak dan cucunya.
Kearifan lokal yang dikembangkan masyarakat Batak di Kawasan Toba secara tidak langsung telah memperhatikan kaidah-kaidah geologi lingkungan yang berkaitan dengan potensi sumber daya dan bahaya geologi yang ada disekitar huta. Misalnya, cara pemilihan lokasi dan pengelolaan lahan yang dapat diartikan sebagai upaya agar masyarakat tidak mengganggu areal persawahan yang berada di dasar lembah yang mengelilingi huta. Contoh lainnya, memindahkan material batuan pada lokasi pilihan dan menyusunnya menjadi benteng huta untuk menjaga huta dari pengaruh cuaca yang berubahubah, terutama angin.
Huta sebagai pemukiman tradisional Batak Toba merupakan hasil adaptasi lingkungan masyarakat di sana untuk menjawab tantangan alam. Namun keadaan tersebut lambat laun tergerus pengaruh luar
Dengan semua fenomena yang dimilikinya, Kawasan Pusukbuhit layak dikonservasi, artinya pemanfaatan ruang dapat dilakukan secara terbatas dan bijak untuk kelangsungan hidup manusia di sekitarnya.
yang tidak sesuai dengan tatanan tradisional atau kearifan lokal mereka. Padahal, pemahaman terhadap mitigasi bencana dapat direalisasikan dengan mengintegrasikan pola mitigasi tradisional dan modern menjadi satu kesatuan yang memberikan dampak ketaatan masyarakat secara spiritual maupun konseptual. Masyarakat akan memiliki kewaspadaan yang tinggi dalam menghadapi kemungkinan datangnya bencana, tanpa mengurangi rasa aman dan kenyamanan dalam kehidupan sehari-hari.
Begitu pula keberadaan sumber air panas harus memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat setempat melalui pengembangan wisata. Apalagi saat ini kawasan Pusukbuhit banyak menarik minat wisatawan domestik maupun internasional. Dalam hal itu, pengelolaan lingkungannya harus dapat memberikan kenyamanan bagi wisatawan dan keuntungan bagi masyarakat setempat. Dengan gambaran di atas, Gunung Pusukbuhit jelas memiliki nilai warisan geologi (geological heritages) yang terintegrasi dengan warisan budaya (cultural heritages). Itu artinya, masyarakat di Kawasan Pusukbuhit sudah sejak lama membina hubungan harmonis dengan segala potensi alam di sana. Hubungan itu dibakukan dalam berbagai ekspresi baik sebagai sistem sosial, budaya, seni maupun spiritualitasnya. Semua itu dilakukan agar harmonis dengan alam semesta.
Dengan semua fenomena yang dimilikinya, Kawasan Pusukbuhit layak dikonservasi, artinya pemanfaatan ruang dapat dilakukan secara terbatas dan bijak untuk kelangsungan hidup manusia di sekitarnya. Oleh karena itu, pengembangan ideal untuk Kawasan Pusukbuhit adalah pengembangan Taman Bumi Kaldera Toba.

Penulis adalah Penyelidik Bumi Madya, Ketua Dewan Redaksi Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, dan Ketua Dewan Redaksi Buletin Geologi Tata Lingkungan, Badan Geologi, KESDM.
Pemerintah Persiapkan Kawasan Danau Toba Menjadi Geopark Dunia

Pemerintah Persiapkan Kawasan Danau Toba Menjadi Geopark Dunia

Jumat, 14 Februari 2014 | 11:01:39


SIB/G1 / Serahkan Majalah Geologi : Sekretaris Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dr Ir Yunus Kusumahbrata MSc (kanan) menyerahkan Majalah Geologi populer kepada anggota DPRD Sumut Rooslynda Marpaung yang juga caleg DPR RI Partai Demokrat dari Dapil II Sumut (no 2 dari kiri), disaksikan Wakil Pemimpin Umum/Ketua Dewan Redaksi "SIB" GM Chandra Panggabean (kiri) dan Hinca Panjaitan, Caleg DPR RI Partai Demokrat dari Dapil III Sumut

Jakarta (SIB) - Pemerintah pusat, melalui Badan Geologi  Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral  (ESDM)  sedang mempersiapkan daerah Toba (kawasan Danau Toba), Provinsi Sumut  sebagai Geopark dunia (Taman Bumi Dunia).

Jika hal itu terwujud, maka kawasan Danau Toba yang  indah pemandangannya itu  akan menjadi Taman Bumi Dunia, mengikuti China yang kini sebagai negara Geopark terkenal di dunia.

"Saat ini sedang kita persiapkan, kawasan Toba sebagai geopark  dunia, dan diharapkan bisa terealisasi pada tahun 2015 ," kata Sekretaris Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral ( ESDM) Dr Ir Y Yunus Kusumahbrata MSc  ketika menerima Rooslynda Marpaung , anggota DPRD Sumut yang juga Caleg DPR RI Partai Demokrat dari Dapil II Sumut,  Rabu (12/2/2014) di kantornya Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan.

Rooslynda Marpaung didampingi Wakil Pemimpin Umum/ Ketua Dewan Redaksi "SIB" GM Chandra Panggabean, dan Hinca Panjaitan, yang juga Caleg DPR RI Partai Demokrat dari Dapil III Sumut.

Rooslynda, yang sejak beberapa bulan terakhir berkeliling dan berdialog dengan masyarakat di kawasan Danau Toba menyampaikan harapan dan keinginan  masyarakat tentang pentingnya upaya dan terobosan pengelolaan berbagai  potensi yang dimiliki  daerah Sumut umumnya dan kawasan Danau Toba khususnya  sehingga lebih bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

"Keinginan dan kerinduan masyarakat itulah yang kita sampaikan kepada pemerintah, melalui Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)," kata Rooslynda sambil menambahkan, misi mereka adalah memberi semangat dan motivasi  kepada pemerintah sehingga arif dan bijaksana untuk merespon aspirasi masyarakat.

Chandra Panggabean mengemukakan, sesungguhnya program pemerintah ini, sudah sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat Sumut, khususnya kawasan Danau Toba, yang mencakup 7 kabupaten, yakni Kab Simalungun, Karo,  Dairi, Humbahas, Taput, Tobasa dan Kab Samosir.

Hinca Panjaitan menyatakan, geopark mencakup tiga bagian yang satu sama lain saling berkaitan. Pertama, menyangkut geologinya, yakni batu-batuan khusus yang belum tentu dimiliki daerah lain.

Kedua, biologinya, yakni tumbuh-tumbuhan atau daun-daunan yang bisa disebut sebagai herbal di negara maju. Ketiga, menyangkut budaya dan adat  istiadatnya yang khas, yang menjadi warisan nenek moyang atau leluhur masyarakat.

"Ketiga hal, yang merupakan prasyarat sebagai geopark  ini memang dimiliki daerah di kawasan Danau Toba, " ujar Hinca Panjaitan.

Banyak DitulisYunus Kusumahbrata mengakui  tentang kawasan Danau Toba telah banyak ditulis dalam literatur. Bahkan,  beberapa professor dan doktor di Arizona, baik  di Amerika Serikat maupun Eropa dan  Francis sangat kenal dengan Danau Toba.

Fenomena alam yang memberikan suatu kepingan sejarah, mengenai kejadian di  bumi sekitar 74.000 tahun lalu  sangat spektakuler.

Bukti-buktinya dapat dilihat  sekarang, betapa dahsyatnya asal muasal terjadinya  Danau Toba.

Badan Geologi, kata Yunus memiliki tugas  melakukan optimalisasi resoursis yang sifatnya warisan alam bumi.

 Dewasa ini, hal ini  memang merupakan salah satu potensi yang bisa  dijual dalam rangka mendorong  kegiatan keparawisataan, khususnya di hilir.

Sedangkan di hulunya, bukti-bukti yang ada  perlu diangkat ke permukaan sehingga lebih dikenal masyarakat, sampai ke seantero dunia.

"Intinya, item demi item diperkenalkan secara runut dan transparan, sehingga terlihat sebuah  proses yang bisa diapresiasi," ujar Yunus sambil menambahkan,  tiga komponen alam  yang dimiliki bisa dijadikan  sebagai modal untuk mengembangkan daerah kawasan Danau Toba sehingga bisa dinamai geopark  atau  taman bumi.

Mengapa  dinamai geopark, bukan culturpark atau ekopark,  kata   Yunus,  salah satu alasannya  adalah untuk mengikuti program Unesco. Sebab, sejak 10 tahun lalu, Unesco mengembangkan program yang namanya  geopark.

Menurutnya,  geopark  ada 860 situs  di seluruh dunia  dan Indonesia sudah memiliki Subak (Bali ), Borobudur (Yogyakarta). Selain itu  ada yang sifatnya alam murni seperti Ujung Kulon dan beberapa yang lainnya,  walau  terkesan kurang besar manfaatnya bagi masyarakat.

Dalam geopark ada satu kelebihannya, di samping menggabungkan tiga unsur (kaldera, herbal dan budaya), ada satu kewajiban bahwa program itu bisa mengangkat drajat kesejahteraan  sosial ekonomi masyarakat. Hal ini jelas tertera dalam program  Unesco.

Yunus membenarkan, sejak 10 tahun lalu, China sangat agresif  dan saat ini sudah mempunyai 128 geopark nasional dan dari jumlah itu sudah berhasil mengusung 30 menjadi geo global.

Dengan instrumen ini, China berhasil mendongkrak hasil dari pariwisata, sekitar Rp 450 trilyun per tahun. Sedangkan Indonesia yang sudah terjun sejak tahun 2008 berhasil mengusung 2 geopark menjadi global geo yakni daerah Batur dan Gunung Sewu. Yang lainnya, masih ada yang geopark lokal dan geopark nasional. Sementara  Danau Toba, termasuk geopark nasional.

Menurut Yunus, salah satu kesulitan mengangkat Danau Toba menjadi geopark dunia adalah karena berada di kawasan 7 kabupaten, sehingga koordinasinya tidak mudah. Sedangkan Batur, Malang, hanya satu kabupaten.

Terkait dengan itu, dibutuhkan koordinasi yang intensif, baik antar ketujuh kabupaten, maupun ke tingkat provinsi. Sebab, sesuai dengan Undang-Undang Otonomi Daerah, para bupati memiliki otoritas tersendiri, untuk mengatur daerah dalam skala tertentu.

Selain itu, perlu sosialisasi secara luas, sehingga cepat ditangkap oleh  seluruh  masyarakat dan para pejabat instansi terkait. Harian Sinar Indonesia Baru ( SIB) juga diharapkan berperan untuk menyebar luaskan hal ini, sehingga masyarakat banyak mengetahuinya.

Tujuan utama geopark , selain konservasi, edukasi dan keparawisataan juga  melestarikan budaya sebagai kearifan lokal  sehingga tumbuh ekonomi masyarakat yang berbasis ekonomi kreatif,  yang ujung-ujungnya punya dampak meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Ditargetkan, pada tahun 2015,  kawasan Danau Toba akan menjadi geopark  dunia (geo global). Kini sedang disusun dan dihimpun beberapa persyaratan, dan setelah rampung  dan lengkap akan segera diajukan ke Unesco.

 Biasanya, pihak Unesco akan datang langsung ke tengah-tengah masyarakat untuk melakukan survey dan  cross chek. Bagaimana hasilnya, tergantung penilaian Unesco sendiri  karena tim pencari fakta  dan penilai tidak bisa di intervensi dengan cara apapun.

Diharapkan pula agar para Bupati, di tujuh  Kabupaten yang berada dikawasan Danau Toba mempersiapkan segala sesuatu menyambut program geopark ini, seperti infrastruktur, sikap mental masyarakat dan lain sebagainya.

Yunus mengemukakan, saat ini merupakan momen yang tepat untuk mewujudkan program geopark, demi kepentingan keparawisataan khususnya dan kesejahteraan masyarakat pada umumnya.
“Toba Big Bang”74.000 Tahun yang Lalu: Katastrofi Geologi

“Toba Big Bang”74.000 Tahun yang Lalu: Katastrofi Geologi

Big Bang
Tepi utara Danau Toba dilihat dari Merek ke arah selatan. Di latar belakang adalah Pulau Samosir dengan sisi timurnya menunjukkan bentukan-bentukan erosi tampang segitiga (triangular facet) sebagai wujud gawir sesar normal. Foto: Awang H. Satyana
“Memandang alam dengan pengertian jauh lebih berarti dan menyukakan hati daripada hanya menyaksikan keelokannya.” (Albert Heim, 1878, dalam Mechanismus der Gebirgsbildung, diadaptasi sebagai motto Geotrek Indonesia)
Berbekal apa yang ditulis oleh Albert Heim tersebut, Geotrek Indonesia sebuah komunitas pencinta geohistori (geologi dan sejarah) Indonesia mengadakan perjalanan ke Danau Toba dan sekitarnya di Sumatra Utara pada 2-4 November 2012. Tujuan perjalanan ini adalah selain untuk menikmati keindahan pemandangan Danau Toba dan sekitarnya yang sudah terkenal itu, juga untuk belajar di lapangan tentang kejadian geologi danau ini yang dikatakan sebagai hasil erupsi volkanik, dan melihat bukti-buktinya yang tersimpan dalam bentuk morfologi danau dan endapan-endapan volkanik di sekitarnya. Perjalanan ini juga mendiskusikan teori katastrofi Toba, yaitu bahwa erupsi Toba pada 74.000 tahun yang lalu tersebut sangat besar (magakolosal), sehingga efek katastrofiknya sangat mempengaruhi lingkungan biotik Bumi.
Danau Toba dan Pulau Samosir
Danau Toba, Sumatra Utara, terletak 70 km di sebelah selatan Medan. Danau Toba adalah danau terbesar di Asia Tenggara dan termasuk danaudanau terdalam di dunia. Danau Toba sesungguhnya merupakan sebuah kawah gunung api/volkanik, sehingga Danau Toba pun merupakan danau volkanik terbesar di dunia. Letusan gunung api Toba merupakan letusan terbesar di dunia dalam 28 juta tahun terakhir, bahkan mungkin yang terbesar dalam sejarah Bumi yang kita ketahui.
Big Bang
Danau Toba, pandangan ke selatan, melintas dari Parapat ke Pulau Samosir. Bagian terangkat di sebelah kiri (timur) foto adalah Semenanjung Uluan, bagian terangkat di sebelah kanan depan (barat) foto adalah Pulau Samosir. Semenanjung Uluan dan Pulau Samosir merupakan bagian puncak Gunung Toba yang pernah tenggelam saat terjadi pembentukan kawah, kemudian terangkat kembali. Selat Latung (kedalaman 400 m) memisahkan Uluan dan Samosir. Foto: Awang H. Satyana
Danau Toba berukuran maksimal 100 km x 31 km dengan titik terdalam 529 meter di sebelah utara dekat Haranggaol. Perairan Toba mempunyai luas 1.130 km2, tidak termasuk Pulau Samosir seluas 647 km2 dan pulau-pulau kecil lainnya. Tebing-tebing curam setinggi 400-1.220 m mengelilingi Danau Toba. Tebing-tebing curam ini diyakini merupakan bidang sesar saat terjadi pembentukan kawah volkanik Toba akibat runtuhan.
Danau Toba mendapatkan airnya dari sungaisungai berukuran menengah dan kecil dengan luas wilayah aliran (catchment area) sebesar 3.700 km2. Di samping itu, air berasal dari air hujan dengan curah hujan rata-rata 2.264 mm/tahun. Pengeluaran air dari Danau Toba terjadi di bagian selatannya melalui Sungai Asahan. Fluktuasi muka danau saat ini adalah 1,5 m, tingkat keasaman air pH 7,0 - 8,4, tingkat penguapan 15,8 cm/tahun, suhu air 25,6oC dan suhu udara 19,1-21,2 oC (Hehanusa, 2000).
Ketinggian air Danau Toba saat ini 905 meter, tetapi sebelumnya diyakini pernah mencapai 1.150 m. Surutnya air danau karena air danau memotong lembah baru yang tersusun dari tuf di bagian selatan danau dan bersatu dengan lembah Sungai Asahan (van Bemmelen, 1949).
Pulau Samosir terletak di dalam Danau Toba. Pulau ini bukan gunung api yang tumbuh di dalam kawah volkanik seperti banyak ditemukan di kawah volkanik lainnya, tetapi bagian puncak Gunung api Toba yang ikut runtuh ke dalam kawah ketika terjadi pembentukan kawah Toba, kemudian terangkat kembali (resurgent cauldron).
Big Bang
Diagram tiga-dimensi, menunjukkan Danau Toba, Pulau Samosir dan wilayah di sekitarnya. (van Bemmelen, 1949)
Pulau Samosir berukuran 45 km x 20 km. Pulau ini sebenarnya merupakan semenanjung yang disambungkan oleh tanah genting (isthmus) sepanjang 200 meter dengan wilayah di sebelah barat Danau Toba. Pada tahun 1906, Belanda membangun kanal di tanah genting ini, sehingga Samosir menjadi sebuah pulau.
Bagian timur Pulau Samosir sangat curam dengan kawasan pantai yang sempit dan langsung naik ke bukit-bukit Plato Samosir di bagian tengah pulau dengan titik tertinggi 780 meter di atas muka danau. Lereng plato ke arah barat dan selatan landai. Plato Samosir hampir gersang dengan hutan-hutan kecil tersebar di beberapa tempat, rawa-rawa dan beberapa danau kecil, yang terbesar di antaranya bernama Danau Sidihoni.
Evolusi Geologi dan Erupsi Toba 74.000 Tahun yang Lalu
Menurut van Bemmelen (1949), gunung api dan Danau Toba terjadi di puncak suatu kulminasi geologi di Sumatra Utara yang disebutnya Kulminasi Batak atau Tumor Batak, yaitu suatu dataran tinggi menonjol sendiri di Sumatra Utara berukuran 150 x 275 km. Tumor Batak ini ditandai oleh puncakpuncak gunung yang tersebar di seluruh areanya, yaitu Gunung Sibuatan (2.457 m) di sebelah barat laut Danau Toba, Gunung Pangulubao (2.151 m) di sebelah timur, Gunung Surungan (2.173 m) di sebelah tenggara, dan Gunung Uludarat (2.157 m) di sebelah barat. Semua gunung ini disusun oleh batuan tua berumur lebih tua dari 25 juta tahun, pada Zaman Paleogen dan pra-Tersier.
Sesar Sumatra memotong bagian barat Tumor Batak tepat di sebelah barat Danau Toba sepanjang kira-kira 1.700 km. Danau Toba atau Kawah Toba terletak di puncak Tumor Batak. Panjang kawah ini dari barat laut - tenggara hampir 100 km, dan lebar badat daya – timur laut maksimum 31 km. Luas area Toba 2.269 km2. Berdasarkan topografi dan geologinya, van Bemmelen (1949) mengemukakan evolusi pembentukan gunung api dan Danau Toba.
Evolusi Toba dimulai pada sekitar 13 juta tahun yang lalu (Kala Miosen Tengah) ketika dimulai pengangkatan Pegunungan Barisan oleh proses tektonik. Pengangkatan ini terus berlangsung dan pada sekitar 2 juta tahun yang lalu (Plio-Pleistosen) dan terjadilah Kulminasi Batak atau Tumor Batak yang memanjang membentuk Tinggian Wilhelmina-Simanukmanuk.
Big Bang
Sisi timur Pulau Samosir kebanyakan adalah tebing curam yang sebenarnya merupakan gawir sesar normal yang dicirikan oleh bentukan erosi tampang segitiga (triangular facet) dan air terjun di beberapa tempat. Foto: Awang H. Satyana
Proses tektonik ini dalam banyak hal disertai dengan proses magmatisme atau volkanisme akibat turutnya magma bergerak oleh deformasi kerak Bumi. Pada saat pengangkatan Tumor Batak terjadi juga pergerakan magma yang menyebabkan intrusi (magma bergerak di antara batuan di bawah permukaan) atau ekstrusi (magma keluar permukaan menjadi lava). Intrusi dan ekstrusi ini menghasilkan batuan andesitik yang meleler di beberapa tempat di sekeliling Toba sekarang, misalnya di wilayah depresi/ wilayah turun Graben Batang Toru-Renun di sebelah barat daya Toba, Surungan di ujung selatan Toba, di Haranggaol di sebelah U dan TL Toba, dan di Silalahi dan Binangara di barat laut Toba, serta di Paropo di antara Tongging dan Silalahi. Oleh van Bemmelen (1949), semua batuan andesit ini disebut Andesit pre-Toba, atau menurut Aldiss dan Ghazali (1984) disebut Pusat-pusat Gunung Api Plio-Plistosen.
Tinggian Wilhelmina-Simanukmanuk yang membentuk Kulminasi Batak rupanya tidak berlangsung lama dalam waktu geologi. Pengangkatan ini berhubungan
dengan pasokan magma yang sangat besar, ketika semakin terangkat, bagian puncak Tumor Batak (Gunung api Toba) mulai retak-retak, maka dengan terjadi retakan tersebut terdapat kontak antara permukaan dengan magma bertekanan tinggi. Lalu segeralah terjadi pelepasan tekanan sangat tinggi dari magma yang naik ke permukaan dan menghasilkan letusan/erupsi leburan magma silikat asam yang sangat dahsyat atau katastrofik. Jadi letusan Toba adalah melalui fissure eruptions (letusan retakan). Berdasarkan penelitian modern, letusan katastrofik gunung api Toba terjadi pada 73.500 ± 3000 atau 73.000 ± 4000 tahun yang lalu (Chesner dkk., 1991). Secara umum sering disebutkan letusan tersebut terjadi pada 74.000 tahun yang lalu (Rampino dan Self, 1993).
Materi letusan sebagian besar berupa campuran gas dan magma yang sudah menepung menjadi abu volkanik akibat kuatnya tekanan, menyala, bercampur
dengan fragmen-fragmen batuan lebih tua berasal dari dinding celah-celah gunung. Awan volkanik berapi ini terlempar ke mana-mana dan endapannya menuruni dataran rendah di sekeliling Toba terutama ke dataran rendah luas di sebelah timur laut, yaitu area Pematang Siantar. Abu volkanik mengendap kembai dan menjadi tuf. Aliran tuf di sekitar Kawah Toba luas penyebarannya 20.000-30.000 km2, di bagian tengah tebalnya sampai ratusan meter. Volume total material letusan Toba menurut van Bemmelen (1949) adalah 2000 km3.
Big Bang
Evolusi pembentukan Gunung api dan kawah/Danau Toba serta Pulau Samosir (van Bemmelen, 1949)
Penelitian-penelitian modern (misalnya Rose dan Chesner, 1987) menunjukkan bahwa abu volkanik Toba menyebar di seluruh Asia Selatan sampai India dan juga mengendap di dasar laut Samudera Hindia dan Laut Cina Selatan, meliputi kawasan seluas 4 juta km2 dan volume materi letusan minimal 2800 km3.
Dengan besarnya materi yang diletuskan, maka terjadilah pengosongan kantong magma di bawah Toba. Hal ini telah menyebabkan runtuhnya puncak Toba menjadi sebuah kawah atau cauldron. Volume kawah ini sekitar 1000-2000 km3. Runtuhan puncak Toba di bagian tengah Kulminasi Batak ini terjadi melalui sesar-sesar terban atau sesar runtuh yang kini membentuk gawir-gawir sesar yang curam ratusan meter tingginya di beberapa tempat di sekeliling Danau Toba. Di bagian barat, sesar-sesar terban ini memotong Sesar Sumatra. Kawah runtuhan ini kemudian diisi air melalui air hujan atau sungaisungai yang mengalir menuju depresi Toba. Ssetelah diisi air, jadilah kawah gunung api ini terkenal sebagai Danau Toba.
Pulau Samosir dan Semanjung Uluan semula adalah bagian puncak Toba yang juga tertutup material tuf hasil letusan Toba. Dalam proses pembentukan kawah akibat runtuhan seperti diterangkan di atas, puncak Toba ini ikut runtuh. Tetapi kemudian, bagian runtuhan ini terangkat kembali akibat aktivitas tektonik dan magmatik setelah letusan Toba. Pulau Samosir terangkat miring ke sebelah barat, bagian barat landai dan bagian timurnya cukup curam. Semanjung Uluan terangkat miring ke timur. Jadi Pulau Samosir dan Semenanjung Uluan adalah bagian kawah Toba yang terangkat kembali (resurgent cauldron). Ditemukannya endapan danau (diatomite) di Pulau Samosir menunjukkan bahwa Pulau Samosir pernah berada di bawah muka danau. Bila diperhitungkan, pulau ini telah terangkat paling sedikit 700 meter sejak letusan mega-kolosal Toba terjadi.
Aktivitas Volkanik Pasca-Toba
Kegiatan magmatik dan volkanik Toba setelah letusan katastrofik sekitar 74.000 tahun lalu (postvulkanismus) masih terjadi, bahkan sampai sekarang. Leleran lava andesit hipersten yang merupakan mineral dominan di lava andesit ini, terjadi di sesar sebelah barat daya Toba, membentuk kerucut volkanik Pusukbuhit, yang sebagian lavanya tersilisifikasi oleh proses hembusan gas belerang solfatara.
Semburan air panas (fumarola) dan gas belerang (solfatara) di wilayah Pangururan di dekat Pusukbuhit adalah juga gejala volkanisme pasca-Toba. Gejala volkanik pasca-Toba yang lain adalah pembentukan gunung-gunung dasitik-andesitik yang banyak terjadi berhubungan dengan sesar-sesar akibat runtuhan Toba, yaitu kerucut-kerucut volkanik Singgalang (1.865 m), Tandukbenua, juga beberapa gunung api aktif sekitar 30-40 km di sebelah utara Danau Toba yaitu Sinabung (2.460 m) dan Sibayak (2.094 m). Gunung-gunung api ini belum mati sama-sekali, masih terjadi aktivitas pasca-volkanik pada gununggunung ini.
Big Bang
Perbandingan material letusan beberapa gunung api di dunia. Toba mencolok sendiri dengan material letusan diperhitungkan minimum sekitar 2600 km3, jauh melebihi beberapa gunung api lain (Lockwood dan Hazlett, 2010).
Sejarah Erupsi Toba
Pengukuran endapan-endapan volkanik berupa tuf di sekitar Danau Toba menunjukkan bahwa Gunung api Toba ternyata telah meletus beberapa kali. Paling tua diketahui dari Tuf Dasit Haranggaol 1,2 juta tahun (Chesner dkk. 1991), kemudian terjadi juga letusan pada 840.000 tahun yang lalu (Diehl dkk., 1987), 501.000 tahun yang lalu (Chesner dkk., 1991), dan letusan terbesar adalah yang terjadi pada 74.000 tahun yang lalu. Berdasarkan umur-umur letusannya, Chesner dkk. (1991) memperkirakan daur letusan besar terjadi setiap 340.000-430.000 tahun sekali.
Tiga letusan/erupsi gunung api terbesar di dunia pada zaman prasejarah maupun sejarah terjadi di Indonesia, yaitu erupsi mega-kolosal Toba 74.000 tahun yang lalu, erupsi Tambora 1815 M, dan erupsi Krakatau 1883 M. Letusan Tambora melontarkan material sebanyak 160 km3, menewaskan 91.000 orang baik langsung maupun tak langsung. LetusanKrakatau melontarkan material 18 km3, menewaskan 36.000 orang terutama akibat tsunami yang dibangkitkan oleh material letusan. Sementara Toba jauh di atas itu, ia melontarkan 2800 km3 material dan mungkin menewaskan 90 % penduduk Bumi saat itu (Ambrose, 1998).
Untuk mengukur kekuatan ledakan gunung api, para ahli gunung api telah mengembangkan parameter VEI, volcanic explosivity index. Dari kriteria-kriteria tersebut, maka erupsi Krakatau 1883 M berada pada VEI = 6 (paroxysmal), Tambora 1815 M pada VEI = 7 (colossal), dan erupsi Toba 74.000 tahun yang lalu pada VEI = 8 (megacolossal). Berdasarkan banyak studi, maka frekuensi erupsi dengan VEI ≥ 6, di seluruh dunia terjadi 1 x di dalam 50 tahun; VEI ≥ 7, terjadi 1 x di dalam 450 tahun; dan VEI ≥ 8, terjadi 1 x di dalam 300.000 tahun atau lebih. Batas paling tinggi VEI adalah antara 8 dan 9. Erupsi Toba mungkin merupakan batas itu (Lockwood dan Hazlett, 2010).
Big Bang
Parameter-parameter klimatologi dan oseanografi global yang menunjukkan perubahan signifikan pada 74.000 tahun yang lalu, merespon efek letusan mega-kolosal Toba. (Rampino dan Self, 1992)
Katastro fi Geologi oleh Super-erupsi
Katastrofi geologi adalah suatu proses geologi yang menyebabkan perubahan sangat besar bagi lingkungan Bumi dan penghuninya, ditandai dengan rusak atau hancurnya lingkungan, kondisi iklim yang tidak menunjang bagi kelangsungan kehidupan, sehingga sebagian besar makhluk hidup mengalami kepunahan dalam skala besar (kepunahan massa/ mass extinction). Dengan terjadinya erupsi Toba dalam skala megakolosal, VEI = 8, yang terbesar di Bumi dalam 28 juta tahun terakhir, maka suatu katastrofi geologi diperkirakan telah terjadi. Kejadian ini secara definitif disebut sebagai “Teori Katastrofi Toba”.
Katastrofi Toba terjadi melalui dua cara, yaitu musim dingin volkanik (volcanic winter) dan punahnya sebagian besar manusia modern yang saat itu sedang bermigrasi keluar dari Afrika (population bottlenecking) (Gibbons, 1993; Rampino dan Self, 1993; Ambrose, 1998)
Musim dingin volkanik terjadi bila banyak abu tersembur masuk ke dalam atmosfer. Kadar asam belerang pun memasuki atmosfer , dan bila abu volkanik terinjeksi lebih tinggi ke dalam atmosfer, maka abu volkanik dan asam belerang tersebut akan tinggal lebih lama di dalam atmosfer. Kejadiannya bisa selama berabad-abad, bahkan ribuan tahun, lalu mereka akan menangkis dan mengubah influks energi matahari ke atmosfer bagian bawah. Manusia modern yang hidup antara 1815-1818 pun menderita akibat letusan Tambora. Bagaimana bila itu terjadi 74.000 tahun yang lalu dan berasal dari sebuah erupsi megakolosal yang puluhan kali lebih kuat daripadaTambora? Maka, mungkin benar, bahwa telah terjadi suatu kepunahan massa.
Big Bang
Parameter-parameter klimatologi dan oseanografi global yang menunjukkan perubahan signifikan pada 74.000 tahun yang lalu, merespon efek letusan mega-kolosal Toba. (Rampino dan Self, 1993)
Letusan Toba 74.000 tyl telah menghasilkan 3 milyar ton abu halus dan aerosol H2SO4 dan SO2 yang terlontar setinggi 27-37 km menginjeksi atmosfer dan sangat signifikan mengurangi transmisi sinar Matahari ke permukaan Bumi (Rampino dan Self, 1992; Chesner dkk., 1991). Diperhitungkan bahwa transmisi sinar Matahari saat itu hanya 0,001-10 %. Menurunnya daya terima sinar Matahari ini telah menyebabkan temperatur menurun 3-5oC. Saat itu Zaman Es sedang menjelang, dan letusan Toba diyakini telah mempercepat datangnya Zaman Es ini. Toba juga telah melepaskan sebanyak 540 milyar ton air yang naik sampai stratosfer dan dapat mengubah gas belerang yang dilontarkan Toba menjadi 1-10 milyar ton aerosol H2SO4. Posisi Toba di wilayah tropis juga membuatnya lebih efisien untuk abu dan gas dari Toba memasuki stratosfer di kedua belahan Bumi.
Mengenai hal ini, para ahli umumnya sepakat bahwa letusan megakolosal Toba telah memicu ataumempercepat musim dingin sesuai siklus geologi. Mereka hanya berbeda pendapat di mekanisme terjadinya musim dingin volkanik dan tingkat penurunan temperatur, misalnya yang didiskusikan oleh Oppenheimer (2002) dan Robock dkk. (2009).
Big Bang
Parbakalan, Sidikalang, lembah terbuka sejajar (strike valley) Sesar Sumatra. Foto: Margaretha Purwaningsih
Kemungkinan terjadinya penciutan populasi manusia akibat erupsi mega-kolosal Toba pertama kali dikemukakan oleh Gibbons (1993). Pendapat ini kemudian segera disokong oleh Rampino dan Self (1993). Teori bottleneck ini kemudian dikembangkan oleh Ambrose (1998) dan Rampino dan Ambrose (2000). Menurut para pendukung teori genetic bottleneck, antara 50.000-100.000 tyl, populasi manusia mengalami penurunan yang sangat drastis, dari sekitar 100.000 individu menjadi sekitar 10.000 individu (Gibbons, 1993; Ambrose, 1998). Bukti-bukti genetik juga menunjukkan bahwa semua manusia yang hidup sekarang, meskipun sangat bervariasi, diturunkan dari populasi yang sangat kecil antara 1000-10.000 pasangan sekitar 70.000 tyl.
Setelah genetic bottleneck dan pemulihan kembali, diiferensiasi ras populasi manusia terjadi dengan cepat. Oleh karenanya, diajukan pendapat bahwa Toba telah menyebabkan ras-ras modern berdiferensiasi secara mendadak hanya sekitar 70.000 tahun yang lalu, daripada secara berangsur selama satu juta tahun.
Terjadinya musim dingin volkanik dan Zaman Es yang segera karena letusan Toba dapat menjawab suatu paradoks tentang asal Afrika buat manusia, yaitu: bila kita semua berasal dari Afrika (Out of Africa) mengapa kita semuanya tidak mirip orang Afrika? Karena musim dingin volkanik dan Zaman Es yang segera telah mengurangi populasi sampai tingkat cukup rendah untuk meneruskan efek nenek moyang, lalu terjadi aliran genetik dan adaptasi lokal menghasilkan perubahan cepat pada populasi yang selamat, yang menyebabkan manusia-manusia di seluruh dunia terlihat begitu berbeda. Dengan kata lain, Toba telah menyebabkan ras modern manusia terdiferensiasi secara mendadak (Ambrose, 1998).
Demikian, beberapa aspek tentang Toba, tentang sejarah geologi, tektonik dan erupsi katastrofiknya pada 74.000 tahun yang lalu, tentang efeknya bagi iklim dunia dan akibatnya atas katastrofi biologi berupa penciutan jumlah manusia. Mengunjungi tempat-tempat dengan fenomena geo-histori di Indonesia yang menarik sangat bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan tentang tempat tersebut, yang mungkin sebelumnya tidak diketahui dengan baik. Hal ini akan makin membuat kita takjub atas warisan geo-histori Indonesia, sehingga kita dapat lebih mencintainya.

Penulis adalah spesialis utama di SKMIGAS dan penggiat
komunitas “Geotrek Indonesia”.
Danau Toba

Danau Toba

A.  INFORMASI UMUM

1. Letak Geografis dan Luas Danau

Secara geografis Kawasan Danau Toba terletak di pegunungan Bukit Barisan Propinsi Sumatera Utara pada titik koordinat 2021‘ 32‘‘– 20 56‘ 28‘‘  Lintang Utara dan 980 26‘ 35‘‘ – 990 15‘ 40‘‘ Bujur Timur. Danau Toba terletak di Pulau Sumatera 176 Km arah Selatan Kota Medan,    merupakan danau terbesar di Indonesia dan di Asia Tenggara. Permukaan danau berada pada ketinggian 903 meter dpl, dan Daerah Tangkapan Air (DTA) 1.981 meter dpl. Luas Perairan Danau Toba yaitu 1.130 Km2  dengan kedalaman maksimal danau 529 meter. Total luas Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba   lebih kurang 4.311,58 Km2.

LUAS WILAYAH DTA DANAU TOBA
No
Kabupaten
Kecamatan
Luas Wilayah (Km2)
1
Samosir
Simanindo
Pangururan
Palipi
Nainggolan
Onan Runggu
Ronggur Ni Huta
Harian
Sitio-tio
Sianjur Mula-mula
198,20
121,43
129,55
87,86
60,89
94,87
560,45
50,76
140,24
2
Toba Samosir
Lumban Julu
Uluan
Porsea
Laguboti
Sigumpar
Balige
Ajibata
Tampahan
Silaen
Habinsaran
145,40
118,00
87,10
73,90
25,20
91,05
72,80
24,45
62,90
417,84
3
Simalungun
Silima Kuta
Haranggaol Horison
Dolok Pardamean
Pematang Sidamanik
Girsang Sipangan
Bolon Purba
Sidamanik
88,50
34,50
99,42
91,03
120,38
172,00
91,03

4
Tapanuli Utara
Muara
Sipahutar
Siborong-borong
79,75
408,22
279,91

5
Humbang
Hasundutan
Bakti Raja
Dolok Sanggul
Lintong Nihuta
Pollung
50,36
211,50
114,90
201,97
6
Dairi
Silahi Sabungan
Sumbul
75,62
192,58
7
Karo
Merek
125,51
8
Luas Daratan DTA Danau Toba
4.311,58
9
Luas Permukaan Danau Toba
1.130,00
2. Iklim
DTA Danau Toba termasuk ke dalam tipe iklim B1, C1, C2, D2, dan  E2. Dengan demikian bulan basah (Curah Hujan ≥ 200 mm/bulan) berturut-turut pada kawasan ini bervariasi antara dari 3 bulan sampai dengan 7-9 bulan, sedangkan bulan kering (Curah Hujan ≤ 100 mm/bulan) berturut-turut antara 2-3 bulan. Berdasarkan klasifikasi iklim menurut Scmidt dan Ferguson maka DTA Danau Toba ini termasuk ke dalam tipe iklim A,B dan C.

3. Curah Hujan

Curah hujan tahunan yang terdapat di kawasan  Daerah Tangkapan Air Danau Toba berkisar antara 1.700 sampai dengan 2.400 mm/tahun. Sedangkan puncak musim hujan terjadi pada bulan Nopember – Desember dengan curah hujan antara 190 – 320 mm/bulan dan puncak musim kemarau terjadi selama bulan Juni – Juli dengan curah hujan berkisar
54 – 151 mm/bulan.

4. Suhu dan Kelembaban Udara

Suhu udara bulanan di EKDT ini berkisar antara 18,0 – 19,7 0C di Balige dan antara 21,0 – 20,0 di Sidamanik. Suhu udara selama musim kemarau cenderung agak lebih tinggi dibandingkan dengan selama musim hujan. Sedangkan angka kelembaban tahunannya berkisar antara 79 – 95 %. Pada bulan-bulan musim kemarau kelembaban udara cenderung agak rendah dibandingkan pada bulan-bulan musim hujan. Evaporasi bulanan di EKDT ini berkisar antara 74 – 88 mm/bulan. Angka evaporasi selama musim-musim kemarau cenderung lebih tinggi dibandingkan selama musim hujan.

5. Hidrologi

Air yang masuk ke Danau Toba berasal dari : (1) Air hujan yang langsung jatuh ke danau ; (2) Air yang berasal dari sungai-sungai yang masuk ke danau. Sungai-sungai yang mengalir dan bermuara ke Danau Toba yaitu (1) Sungai Sigubang, (2) Sungai Bah Bolon, (3) Sungai Guloan, (4) (5) Sungai Arun, (6) Sungai Tomok, (7) Sungai Sibandang, (8) Sungai Halian, (9) Sungai Simare, (10)Sungai Aek Bolon, (11)Sungai Mongu, (12) Sungai Mandosi, (13) Sungai Gopgopan, (14) Sungai Kijang, (15) Sungai Sinabung, (16) Sungai Ringo, (17) Sungai Prembakan, (18) Sungai Sipultakhuda dan (19) Sungai Silang. Sedangkan Outlet Danau Toba 1 buah yaitu Sungai Asahan.
Daerah aliran sungai (Catchment Area) tersebut diatas terdiri dari 26 Sub DAS, yaitu : Aek Sigumbang, Aek Haranggaol,  Situnggaling, Naborsahon,Tongguran, Gopgopan, Mandosi, Aek Bolon, Simare, Halion, Sitobu, Siparbul, Pulau Kecil, Silang, Bodang, Parembakan, Tulas, Aek Ranggo, Simala, B. Sigumbang, B. Bolon, Silabung, Guluan, Arun, Simaratuang, Sitiung-tiung.
Total jumlah sungai yang masuk ke Danau Toba adalah 289 sungai. Dari Pulau Samosir adalah 112 sungai dan dari Daerah Tangkapan Air lainnya adalah 117 sungai. Dari 289 sungai itu, 57 diantaranya mengalirkan air secara tetap dan sisa 222 sungai lagi adalah sungai musiman (intermitten).

6. Topografi dan Tata Guna Lahan

Kondisi topografi DTA Danau Toba didominasi oleh perbukitan dan pegunungan, dengan kelerengan lapangan terdiri dari datar dengan kemiringan( 0 – 8 % ) seluas 703,39 Km2, landai (8 – 15 %) seluas 791,32 Km2, agak curam (15 – 25 %) seluas 620,64 Km2, curam (25 – 45 %)seluas 426,69 Km2     sangat curam sampai dengan terjal (> 45 %) seluas 43,962 Km2.
Eksisting penggunaan dan penutupan lahan di DTA Danau Toba terdiri  dari  hutan  alam, hutan rapat,   hutan tanaman,   hutan   jarang  dan   kebun   campuran,  semak belukar, resam,  tanaman semusim, persawahan dan lahan terbuka (permukiman, bangunan lain, lahan terbuka, padang rumput dan alang-alang).
Penggunaan dan Penutupan Lahan di DTA Danau Toba
No
Tipe Habitat
% terhadap luas DTA
1
2
3
4
5
6
Hutan alam, hutan rapat
Hutan tanaman, hutan jarang, kebun campuran
Semak, belukar muda, resam Tanaman Semusim Persawahan
Lahan terbuka (permukiman, bangunan lain, pembukaan lahan)
rumput dan alang-alang
13,47
13,68
15,09
36,39
9,44
11,93

Jumlah
100
Jenis Penggunaan Lahan pada DTA Danau Toba

No

Kabupaten
Jenis Penggunaan Tanah  (Ha)
Tanah Sawah
Tanah Kering
Bangunan/
Pekarangan
Lainnya
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Samosir
Toba Samosir Simalungun Tapanuli Utara
Humbang
Hasundutan
Dairi
Karo
5.011,60
12.267
1.258,25
860
1.071
239
827
63.820
20.232,3
31.368,75
4.308
60
1.465
5.801
2.037
2.623,4
2.348,50
184
75
252
63
56.424,3
24.866,9
8.021,50
2.623,00
0
5.040,00
5.860,00

Jumlah
21.533,85
127.055,05
7.582,90
107.374,40

7. Fungsi dan Manfaat Danau

    Cadangan Air (Air Baku Air Minum)
Air danau Toba dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai air baku air minum.
    Objek Wisata.
Danau Toba yang memiliki pemandangan alam yang menakjubkan sangat berpotensi sebagai sebagai sebagai objek wisata.
  Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).
PLTA memproduksi energy listrik 450 megawatt. Potensi sumber daya air Danau Toba telah memproduksi energy listrik sebesar 450 Megawatt melalui PLTA Asahan yang memanfaatkan outlet air Danau Toba yang Sungai Asahan.
  Transportasi
Danau Toba dimanfaatkan sebagai sarana transportasi di Kawasan Danau Toba.
  Sarana transportasi di Kawasan Danau Toba.
Danau Toba dimanfaatkan sebagai sarana transportasi di Kawasan Danau Toba.
  Budidaya  pertanian  meliputi  budidaya  :  tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perikanan.

B.  KARAKTERISTIK DANAU

1. Keanekaragaman Hayati Danau

Secara umum habitat KDT dapat dikelompokkan menjadi 2 tipe habitat  yaitu (1) habitat perairan Danau Toba dan (2) habitat daratan Kawasan Danau Toba yang berupa Samosir dan daratan di sekeliling luar danau dalam cakupan Kawasan Danau Toba.
Habitat Perairan dan Daratan Danau Tobaa

Habitat Perairan
Habitat Daratan
Flora
Fauna
-    Ikan Batak jenis Lissochilus sumatranus dan Labeobarbus soro
-    Remis Toba (Corbicula tobae)
Meranti, kapur, keruing, puspa, manggis hutan, kayu raja, pinus, liana, epifit, zing iberaceae, pohon Hoting Batu ,Atuang (Semecarpus, sp). Sona,Dakkap  dan  Kamboang angsana, beringin, cemara, ekaliptus, mahoni, kaliandra, kemiri, johar, mindi, palu, pinus dan suren. alpukat, aren, bambu, belimbing, cengkeh, coklat, dadap, durian, gamal, jambu mente, jarak, jengkol, jeruk, kapuk, kecapi, kelapa, kemiri, kopi, kayu manis, mangga, nangka, petai cina, petai, pinang, rambutan, sawit, sawo dan sirsak.
Burung rangkong, elang, kuau, burung hantu, beo, monyet beruk, siamang, kancil, kucing hutan, macan dahan, babi hutan, biawak, Tapir (Tapirus indicus), Kambing Hutan, Rusa (Cervus unicolor), Harimau Sumatera (Panthera tiris sumatrensis), Paku Ekor Kuda (Plathycerium sp), berbagai jenis anggrek alam (Dendrobium spp). kutilang, sikatan, tekukur, bubut, beo,

2. Sosial, Ekonomi dan Budaya

Kondisi sosial ekonomi masyarakat di sekitar kawasan ekosistem Danau Toba dapat  dilihat  dari  aspek  mata pencaharian, pendidikan, kesehatan, prasarana dan sarana pendukung. Dari aspek sosial budaya, masyarakat di kawasan tersebut hidup dalam beragam marga dan tradisi yang tetap dipegang teguh hingga kini. Kearifan lokal tersebut banyak mewarnai seluk-beluk masyarakat sehingga tidak dapat diabaikan dalam menyusun perencanaan pembangunan setempat. Sedangkan kegiatan perekonomian sebagian masyarakat di Kawasan Danau Toba masih mengandalkan   pada   sektor   pertanian, termasuk kegiatan peternakan dan perikanan.
Ditinjau dari karakteristik budidaya pertanian yang dilakukan umumnya dilakukan pada lahan kering untuk budidaya tanaman pangan, tanaman perkebunan dan kehutanan. Sementara pengusahaan kegiatan pertanian pada lahan basah hanya dilakukan untuk tanaman pangan.
Penduduk yang bermukim di Kawasan Danau Toba tersebar di 443 desa/kelurahan pada 37 Kecamatan, di 7 Kabupaten ( Samosir,Toba Samosir, Simalungun, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Karo dan Dairi) dengan jumlah total penduduk 580.428 jiwa.
Jalur angkutan danau penyeberangan di perairan Danau Toba :
1.  Ajibata ke Tomok.
2.  Ajibata ke Pangururan melalui Ambarita.
3.  Balige ke Pangururan melalui Nainggolan dan Mogang.
4.  Ajibata ke Nainggolan.
5.  Nainggolan ke Muara.

C.  PERMASALAHAN EKOSISTEM DANAU

1. Kerusakan Daerah Tangkapan Air (DTA)

Berbagai kegiatan masyarakat pada DTA maupun pada kawasan danaunya dapat menghasilkan limbah yang dapat mencemari perairan. Kualitas fisik-kimia perairan Danau Toba akan mengalami perubahan yang disebabkan  oleh  berbagai  kegiatan  pada Daerah Tangkapan Air maupun perairan Danau Toba.
Luas hutan pada Daerah Tangkapan Air (DTA)   Danau   Toba   pada   tahun   1985 adalah ± 78.558 Ha dan menurun pada tahun 1997 menjadi ± 62.403  Ha. Penurunan   luas   hutan   tersebut   diikuti dengan pertambahan luas semak belukar dari 103.970 Ha menjadi 114.258 Ha serta bertambahnya  luas  padang  rumput  dari 5.870 Ha menjadi 22.528 Ha (LPPM  USU, 2000). Diperlukan penataan ulang terhadap kawasan tutupan hutan yang harus dipelihara di kawasan Danau Toba. Salah satu penyebab kebakaran hutan adalah keteledoran masyarakat, sebagian masyarakat membakar alang-alang dengan tujuan untuk mendapatkan rumput muda sebagai makanan ternak. Pembakaran alang-alang dapat merambat ke areal berhutan.
Pada DTA Danau Toba telah terjadi terindikasi  adanya  penebangan  hutan secara liar, penebangan hutan secara untuk kawasan Danau Toba akan menurunkan kapasitas  resapan kawasan hutan terhadap air hujan. Pembukaan hutan untuk di konversi menjadi lahan pertanian akan mengakibatkan lahan terbuka sehingga akan meningkatkan laju erosi, transpor sedimen maupun meningkatkan aliran permukaan. Kemampuan resapan kawasan yang telah dibuka penutupan hutannya juga akan menurunkan kemampuan lahan meresapkan air hujan. Peningkatan aliran permukaan dan penurunan resapan ini juga akan mengganggu keseimbangan / neraca air danau dan menurunkan fungsi hidrologis DTA secara umum.

2. Kerusakan Sempadan

a. Okupasi lahan
b. Penambangan  galian   C,   potensi   bahan galian di Kawasan Danau Toba relatif besar walaupun kegiatan   penambangan yang dilakukan  tanpa  perencanaan  yang memadai. Sesuai karakteristik fisik Kawasan Danau Toba, akan berpotensi mengakibatkan longsor,  erosi aliran permukaan dan juga mempengaruhi kualitas air yang mengalir ke Danau Toba.
c. Pertumbuhan   dan       pemukiman,   hotel, restoran yang tidak sesuai dengan tataruang semestinya.
d.  Penurunan  jumlah  wisatawan  ke  Danau Toba.
e. Pencemaran oleh limbah domestik, pertanian, dan peternakan.
f.  Erosi lahan dan tepi sungai dan galian pasir.
3. Pencemaran Perairan Air Danau
Kualitas perairan Danau Toba pada dasarnya dipengaruhi oleh kegiatan-kegiatan manusia disekitarnya, terutama pemukiman penduduk, peternakan,  pertanian,  kegiatan   pariwisataan dan perdagangan termasuk pasar, hotel dan restoran  serta  kegiatan  transportasi  air. Pengaruh terpenting dari seluruh kegiatan tersebut adalah produksi sampah dan limbah yang secara langsung maupun tidak langsung akan masuk ke dalam perairan danau.
Berdasarkan survey yang dilakukan, sumber- sumber pencemar yang potensial menimbulkan pencemaran air Danau Toba adalah sebagai berikut :
a. Limbah domestik.
b. Perahu   motor/kapal   yang   menghasilkan residu minyak dan oli.
c. Peternakan yang menghasilkan limbah dan sisa makanan.
d. Budidaya  perikanan  yang  menggunakan keramba jaring apung yang menghasilkan sisa pakan ikan (pellet).
e. Pertanian    yang    menghasilkan    residu pestisida dan pupuk.
f.  Sektor kehutanan.
g. Industri kecil (industri ulos dan industri pengolahan kopi) yang dapat menghasilkan limbah yang dapat mencemari perairan danau.
h. Populasi enceng gondok.
Limbah cair yang berasal dari hotel/penginapan di sekitar Danau Toba yang dibuang secara langsung ke perairan danau akan mempengaruhi kadar amonium pada perairan Danau Toba. Adapun kondisi Kualitas Air Danau Toba dapat dilihat pada grafik dibawah ini.
  • Limbah domestik yang mencemari lingkungan seperti :
  • Pembuangan sisa-sisa makanan ke selokan.
  • Pembuangan sisa-sisa minuman (teh manis, susu, juice, dll)
  • Pembuangan air sisa cucian peralatan makan dan masak.
  • Pembuangan sisa air mandi ke selokan.
  • Cucian makanan, cucian beras, pakaian, dan lain-lain ke selokan.
  • Pembuangan plastik, kertas dan sampah lainnya.
  • Pembuangan sisa minyak goreng dan sisa makanan lainnya ke lingkungan.
Kegiatan MCK dengan menggunakan air Danau Toba banyak dijumpai seperti mencuci perkakas dapur, mandi sampai penempatan WC yang didirikan persis di pinggiran pantai Danau Toba. Tiga unsur   yaitu nitrogen, fosfor dan kalium merupakan faktor penyubur perairan ini akan meningkatkan pertumbuhan tumbuhan air seperti ganggang dan enceng gondok. Gulma air seperti enceng gondok, ganggang dan sebagainya secara umum dapat menjadi indikator tingginya unsur hara baik unsur organik maupun anorganik yang masuk dalam perairan. Pada tingkat tertentu penyuburan perairan mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan gulma air ini menjadi ekspansif, sehingga dapat menurunkan kualitas serta estetika perairan.

4. Resiko Bencana

Beberapa jenis bencana alam yang potensial di Kawasan Danau Toba antara lain : gempa bumi tektonik, gempa bumi gunung api berbagai longsoran, letusan gunung api, banjir, banjir bandang dan erosi.

D.  RENCANA AKSI TINDAK

Rencana aksi pengelolaan Danau Toba dibagi atas 2 yaitu Rencana aksi yang telah dilakukan dan Rencana Aksi yang akan dilakukanRencana Aksi Pengelolaan Danau Toba.
Rencana Aksi Yang Telah dilakukan
Rencana Aksi Yang akan dilakukan

1.   Pembentukan Badan Koordinasi Pengelolaan Ekosistem Kawasan Danau Toba sebagai Badan yang berfungsi mengkoordinasikan dan menjalankan arah kebijakan pengelolaan EKDT.
2.   Penyusunan Kajian Akademis Rencana Tata Ruang Kawasan Danau Toba sebagai kawasan strategis nasional.
3.   Penyusunan rencana pendirian Ecologycal Research
Center, sebagai pusat penelitian ekologi danau.
4.   Penetapan Baku Mutu Air Danau Toba sebagai Kelas I.
5.   Pembentukan Forum Danau Toba sebagai wadah untuk menggalang partisipasi masyarakat, tokoh adat dan perguruan tinggi.
6.   Gerakan pemberdayaan masyarakat di kawasan Danau Toba melalui pencanangan Gerakan Aku Cinta Danau Toba.
7.   Sinergitas program-program sektoral melalui Rapat kerja teknis bidang pariwisata, lingkungan hidup, kehutanan, perikanan dan telah menghasilkan rencana program bersama untuk setiap sektor tersebut.

1.   Pengelolaan limbah padat/sampah pada pemukiman.
2.   Penerapan sistim pembuangan  limbah MCK.
3.   Penyuluhan kepada masyarakat untuk mengurangi penggunaan deterjen.
4.   Pengelolaan limbah oleh pengelola Hotel & Rumah
Makan.
5.   Mewajibkan kegiatan/usaha di Danau Toba untuk mengolah limbahnya.
6.   Pengkajian dampak pencemaran kegiatan budidaya perikanan terhadap kualitas perairan Danau Toba.
7.   Mengarahkan pengembangan budidaya perikanan pada zona potensial.
8.   Penanganan / pembersihan enceng  gondok di perairan Danau Toba.
9.   Pengkajian pemanfaatan enceng gondok dalam
kegiatan industri rumah tangga.
10. Rehabilitasi Kawasan-Kawasan Lindung yang rusak di DTA.
11. Pendeliniasian dan penetapan Kawasan yang berfungsi sebagai hutan lindung.
12. Pendeliniasian dan penetapan Kawasan yang
berfungsi sebagai hutan lindung.
13. Program pengembangan budidaya rumput hijauan makanan ternak (HMT) untuk memenuhi makanan ternak dengan pembuatan Demplot HMT.
14. Inventarisasi dan identifikasi tipe, keanekaragaman dan sifat perkembangan flora dan fauna daratan dan perairan.